HARIAN DISWAY - Membuka Instagram atau TikTok dengan niat hanya lima menit. Sering kali berakhir menjadi satu jam. Bahkan lebih.
Fenomena tersebut dikenal sebagai doomscrolling. Yakni kebiasaan menggulir layar tanpa henti. Terus-menerus. Menikmati aliran konten pendek yang terus bermunculan.
Di balik sifatnya yang menghibur, kebiasaan tersebut dapat memengaruhi cara kerja otak. Terutama bila dilakukan secara berlebihan dalam jangka panjang.
Berbagai penelitian kognitif dan psikologis menunjukkan dampak buruk. Bahwa doomscrolling dapat berdampak pada perhatian, daya ingat, hingga suasana hati.
BACA JUGA:Terjebak Scroll Berita Buruk? Kenali Bahaya Doomscrolling dan Cara Mengatasinya
BACA JUGA:Doomscrolling Media Sosial saat Tahun Baru Picu FOMO dan Overthinking
Fokus Menjadi Lebih Pendek
Video pendek yang berganti sangat cepat membuat otak terbiasa menerima rangsangan baru. Berlangsung setiap beberapa detik.
Tanpa disadari, doomscrolling dapat menguras energi, menurunkan fokus, dan berdampak buruk pada kehidupan jika tidak dikontrol dengan baik. -Dean Drobot-
Akibatnya, kemampuan mempertahankan perhatian menurun. Terutama perhatian pada satu aktivitas dalam waktu lama.
Hal tersebut berdampak pada pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi. Seperti membaca buku, belajar, atau menyelesaikan pekerjaan. Hal itu jadi terasa lebih membosankan dibanding sebelumnya.
Membebani Daya Ingat
Konten video pendek umumnya menghadirkan informasi yang terus berubah. Hal itu terjadi dalam waktu singkat.
BACA JUGA:Doomscrolling, Ancaman dari Kebiasaan Menggulir Berita Negatif
BACA JUGA:Doomscrolling: Maraknya Informasi Negatif di Media Sosial, Picu Gangguan Mental
Perpindahan konteks berlangsung sangat cepat. Membuat memori kerja (working memory) harus memproses terlalu banyak informasi sekaligus.
Akibatnya, seseorang bisa merasa cepat lelah secara mental. Sulit berpikir jernih. Hingga mengalami apa digital fatigue. Kelelahan digital. Akibat terlalu lama menggulir media sosial.