Artinya, memiliki dampak besar dalam meningkatkan pencapaian dan prestasi belajar anak secara signifikan. Kajian Hattie menunjukkan bahwa dampak positif dari keterlibatan keluarga bekerja melalui beberapa mekanisme, di antaranya mendorong pertumbuhan akademik.
Menurutnya, angka effect size sebesar 0,50 melampaui rata-rata tolak ukur (hinge point) 0,40, yang berarti dukungan keluarga mampu memberikan percepatan belajar lebih dari satu tahun. Dukungan dan keterlibatan orang tua secara aktif jauh lebih berdampak pada keberhasilan murid daripada faktor struktural seperti status ekonomi maupun status keluarga tunggal.
Keterlibatan keluarga memupuk motivasi belajar yang lebih besar, meningkatkan kehadiran di sekolah, serta menumbuhkan rasa percaya diri anak.
Sekolah sebagai Jantung Proses Pembelajaran
Sekolah tetap menjadi jantung proses pembelajaran. Namun, perannya kini bergeser dari sekadar tempat mentransfer pengetahuan menjadi ruang yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan karakter.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) yang mulai diimplementasikan Kemendikdasmen menegaskan bahwa murid perlu memahami makna di balik pengetahuan, bukan sekadar menghafal informasi.
Pembelajaran yang bermakna menuntut keterlibatan aktif murid melalui pengalaman autentik, refleksi, dan pemecahan masalah nyata. Pendekatan itu hanya akan berhasil jika lingkungan belajar di luar sekolah ikut mendukung.
Pembelajaran mendalam tidak berorientasi pada penyelesaian materi atau penguasaan hafalan, tetapi pada kemampuan memahami konsep secara utuh, berpikir kritis, berkolaborasi, berkreasi, serta merefleksikan pengalaman belajar.
Seluruh kompetensi tersebut tidak mungkin tumbuh hanya melalui interaksi guru dan murid di kelas. Ia memerlukan dukungan keluarga yang membangun kebiasaan belajar, masyarakat yang menyediakan pengalaman nyata, dan media yang menghadirkan informasi yang sehat.
Catur Pusat Pendidikan menjadi ekosistem yang memungkinkan pembelajaran mendalam benar-benar hidup dan nyata dalam keseharian murid.
Masyarakat sebagai Laboratorium Kehidupan
Belajar sesungguhnya berlangsung sepanjang hayat. Lingkungan sekitar menyediakan sumber belajar yang tidak terbatas, mulai dunia usaha, industri, komunitas budaya, organisasi sosial, perpustakaan, hingga lembaga keagamaan.
Keterlibatan dalam masyarakat memungkinkan murid memperoleh pengalaman autentik sehingga pembelajaran menjadi lebih kontekstual. Nilai gotong royong, kepedulian sosial, kewirausahaan, hingga pelestarian budaya dapat dipelajari langsung melalui interaksi dengan masyarakat.
Dunia usaha, komunitas, organisasi sosial, lembaga budaya, perpustakaan, hingga tokoh masyarakat dapat menjadi ruang belajar yang menghadirkan pengalaman nyata.
Berinteraksi dalam masyarakat membuat murid belajar tentang gotong royong, kepemimpinan, kewirausahaan, kepedulian sosial, dan keberagaman. Pengetahuan yang diperoleh di kelas memperoleh makna ketika diuji dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Media sebagai Pusat Pendidikan Baru