Oleh karena itu, penggunaan AI yang sehat bukanlah dengan menolak teknologi, melainkan menempatkannya secara proporsional. Mesin mungkin mampu merangkai kata-kata yang terdengar empatik, tetapi ia tidak mengalami emosi sebagaimana manusia.
Biarlah AI membantu mengelola data dan menjadi ruang refleksi. Sementara kehangatan, kasih sayang, empati, dan keberanian untuk hadir bagi sesama tetap menjadi tanggung jawab manusia. Sebab, pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan jawaban, tapi juga membutuhkan manusia lain. (*)
*) Muchammad Syuhada’ adalah dosen Universitas Negeri Surabaya.
*) Achmad Muzakky Cholily adalah antropolog dan pengamat budaya Manifesto Ideas Institute.