“Anak-anak SMK berbasis pesantren harus memiliki akses yang sama ke dunia industri. Jangan sampai industri tumbuh besar, tetapi lulusan di sekitarnya tidak terserap karena kompetensinya tidak tersambung dengan kebutuhan industri,” katanya.
Upaya membangun keterhubungan itu ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara unsur pendidikan vokasi, Kadin Kabupaten Gresik, dan pemerintah daerah. Kerja sama diarahkan untuk memperkuat link and match, penyelarasan kompetensi, serta membuka peluang kerja yang lebih luas bagi lulusan SMK berbasis pesantren.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan, kebutuhan industri juga terus berubah. Karena itu, lulusan SMK harus dibekali keterampilan yang sesuai dengan teknologi dan kebutuhan perusahaan.
Menurut Yani, kemampuan bahasa asing juga menjadi salah satu bekal penting. Ia mencontohkan kebutuhan industri yang berkaitan dengan investasi dari berbagai negara.
BACA JUGA:DPRD Gresik Kuatkan Sinergi Angkat Industri Kecil Menengah Logam: Dorong Industri Kecil Naik Kelas
BACA JUGA:DPRD Gresik Sosialisasi Perda Kesehatan Masyarakat, Sikapi Meningkatnya Kasus HIV/AIDS
“Minimal lulusan SMK itu bisa bahasa Cina. Mereka harus punya talenta-talenta terbaik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perubahan teknologi, termasuk kendaraan yang kini mulai beralih ke sistem kelistrikan. Karena itu, pendidikan vokasi tidak boleh berhenti pada pola pembelajaran lama.
“Kalau bicara SMK dulu biasanya belajarnya hanya bengkel. Sekarang transformasi itu bisa dilihat. Kelistrikan, semua kendaraan sudah bertransformasi ke listrik,” kata Yani.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid (tiga dari kiri) menyerahkan bantuan ZMart BAZNAS RI untuk tujuh pesantren senilai Rp350 juta, lima Bumi Masjid senilai Rp500 juta, serta bantuan Greenzakat BAZNAS Kabupaten Gresik sebesar Rp21 juta.-Moch Sahirol Layeli-
Selain pendidikan dan pekerjaan, ekosistem pemberdayaan juga diarahkan ke sektor ekonomi masyarakat. Cak Imin mengapresiasi peran BAZNAS yang tidak hanya memberikan bantuan secara karitatif, tetapi mulai membangun ekosistem ekonomi produktif.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid menyampaikan, sejumlah program pemberdayaan disiapkan, mulai dari ZMart, bantuan pesantren dan masjid, rumah layak huni, balai ternak, rumah terang, bantuan sumber air bersih, hingga usaha berbasis masjid dan pesantren.
Di Gresik, bantuan yang disalurkan antara lain ZMart BAZNAS RI untuk tujuh pesantren senilai Rp350 juta, lima Bumi Masjid senilai Rp500 juta, serta bantuan Greenzakat BAZNAS Kabupaten Gresik sebesar Rp21 juta.
Selain itu, Kadin Kabupaten Gresik memberikan sertifikasi kepada 50 siswa SMK berbasis pesantren senilai Rp50 juta. BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan dukungan kepesertaan dan santunan bagi ahli waris.
Cak Imin menilai seluruh program tersebut harus diarahkan pada satu tujuan: membuat masyarakat menjadi pelaku, bukan sekadar penonton.
“Pertumbuhan ekonomi harus berdampak dan dirasakan oleh masyarakat,” katanya.