DALAM era kemajuan digital dan teknologi serta keilmuan seperti sekarang ini, kita dituntut untuk selalu beradaptasi dengan situasi yang muncul, termasuk penyakit emerging dan re-emerging. Jika kita lihat situasi sekarang, kemunculan penyakit infeksi tidak seperti dulu.
Penyakit-penyakit baru (emerging diseases) muncul dengan cepat dan memberikan dampak dan ancaman bagi kesehatan masyarakat, bahkan dengan kefatalan yang tinggi dan memunculkan dampak berbagai sektor tidak hanya kesehatan, tetapi juga ekonomi dan sosial.
Sebut saja yang ada saat ini seperti hantavirus, ebola, dan nipah. Belum lagi kita dihadapkan pada penyakit-penyakit yang pernah memorak-porandakan dunia pada masa lampau, kemudian sebagian bisa dikendalikan dan dieradikasi.
Kemudian, kini muncul kembali sebagai penyakit re-emerging. Misalnya, avian influenza, monkey pox, polio, campak, dan demam berdarah. Tentu penyakit-penyakit lain yang sifatnya endemis yang terus menjadi ancaman kesehatan masyarakat bagi wilayah yang terdampak.
BACA JUGA:One Health, Strategi Gotong Royong Pascapandemi
BACA JUGA:Ekonomi Digital dan Transformasi Perdagangan Internasional di Era Pascapandemi
Semua kondisi penyakit tersebut, baik emerging, re-emerging, maupun kondisi endemis, bisa berpotensi untuk menjadikan pandemi jika tidak ada kewaspadaan dini dan penanganan cepat tidak dilakukan.
Banyak spekulasi yang muncul tentang potensi pandemi yang akan muncul setiap 10 tahun. Menurut sebuah perusahaan analitis kesehatan prediktif, Bloomberg, ada kemungkinan sebesar 27,5 persen pandemi mematikan seperti Covid-19 dapat terjadi 10 tahun lagi. Itu karena virus-virus baru muncul makin sering.
Dalam dua dekade terakhir telah terlihat tiga jenis virus korona utama yang menyebabkan SARS, MERS, dan Covid-19 serta pandemi flu babi pada tahun 2009 yang menjadi wabah global. Kondisi tersebut mungkin menjadi salah satu alasan prediksi pandemi bisa saja muncul lebih cepat setiap 10 tahun sekali atau bahkan bisa lebih cepat lagi, berbeda dengan prediksi sebelumnya yang terjadi setiap 100 tahun sekali.
Kemunculan wabah global sesungguhnya tidak memiliki jadwal tetap atau tidak bisa diprediksi secara pasti oleh ilmu pengetahuan. Pandemi tidak muncul dalam kurun waktu atau pola tahunan yang pasti. Pandemi terjadi sebagai kejadian acak.
BACA JUGA:Waspada Trio Pandemi Era Kenormalan
BACA JUGA:Vaksin Dalam Negeri; Pahlawan Melawan Pandemi
Pandemi terjadi karena peristiwa biologis alami yang acak, seperti loncatan patogen dari hewan ke manusia (zoonosis), bukan karena siklus tahunan yang teratur.
Selain itu, pandemi dipicu peningkatan risiko akibat perubahan iklim, kerusakan alam, dan tingginya mobilitas atau perjalanan internasional, peningkatan populasi, perilaku manusia, perdagangan hewan-hewan liar, interaksi intens antara manusia dan hewan, konsumsi makanan, dan lain sebagainya.
Yang terpenting bukanlah sekadar memprediksi kapan pandemi berikutnya akan terjadi, melainkan membangun kesiapsiagaan yang kuat untuk menghadapi potensi ancaman penyakit infeksi di masa depan.