Luka Bromo dan Seni Menunggu Alam Pulih

Selasa 11-08-2026,13:55 WIB
Oleh: Hery Purnobasuki*

Cemara gunung, kesek, dan putihan termasuk jenis yang disebut dalam upaya rehabilitasi kawasan TNBTS. Pemilihan jenis lokal penting agar tanaman mampu beradaptasi dengan suhu rendah, angin kencang, tanah vulkanik, serta ketersediaan air yang terbatas. 

Di sinilah pengetahuan masyarakat lokal dan penelitian ilmiah perlu dipertemukan. Masyarakat Tengger memiliki pengalaman panjang dalam membaca perubahan musim, mengenali tumbuhan, dan memahami karakter kawasan. 

Peneliti dapat membantu melalui pemetaan kerusakan, analisis tanah, pemantauan vegetasi, serta kajian tentang jenis tanaman yang paling sesuai. Pengelola taman nasional memiliki kewenangan untuk mengatur ruang, melindungi kawasan, dan memastikan kegiatan pemulihan berjalan konsisten.

Pemulihan Bromo juga berkaitan erat dengan kegiatan pariwisata. Kawasan itu memiliki daya tarik luar biasa, tetapi tingginya kunjungan membawa risiko. Pengunjung yang tidak memahami kerentanan sabana dapat menginjak tumbuhan muda, keluar dari jalur, membuang puntung rokok, atau membawa benda yang berpotensi memicu api. 

Karena itu, edukasi tidak boleh hanya disampaikan melalui papan peringatan. Petugas, pelaku wisata, fotografer, pengelola penginapan, dan masyarakat perlu menjadi bagian dari budaya keselamatan kawasan.

Di sisi lain, wisata tidak harus dipandang sebagai ancaman. Jika dikelola dengan baik, pariwisata dapat menjadi sumber dukungan bagi pemulihan. Sebagian pendapatan dapat diarahkan untuk patroli, pemeliharaan jalur, pengadaan sarana pemadam, pemantauan ekosistem, dan pendidikan lingkungan. 

Wisatawan juga dapat dilibatkan dalam kegiatan yang tidak merusak seperti pengamatan burung, penanaman terbatas dengan pendampingan, atau program interpretasi ekologi.

Dalam proses pemulihan tersebut, suksesi alami memegang peran utama. Suksesi adalah perubahan bertahap dalam komunitas makhluk hidup pada suatu wilayah. Setelah kebakaran, lahan tidak langsung kembali menjadi ekosistem seperti semula. 

Biasanya, tumbuhan pionir yang cepat tumbuh akan muncul lebih dahulu. Rumput, herba, pakis, dan tumbuhan berumur pendek dapat menutupi permukaan tanah. Kehadiran mereka membantu mengurangi erosi dan menciptakan kondisi yang lebih baik bagi tumbuhan berikutnya.

Seiring waktu, komposisi vegetasi dapat berubah. Jenis-jenis yang lebih tahan terhadap kondisi terbuka mulai berkembang, kemudian disusul semak dan pohon muda. Jika tidak terjadi gangguan baru, kawasan tersebut perlahan membentuk struktur vegetasi yang lebih kompleks.

Namun, suksesi tidak selalu berjalan lurus dan seragam. Kekeringan, kebakaran ulang, aktivitas wisata, invasi jenis asing, dan perubahan iklim dapat mengubah arah proses tersebut.

Karena itu, suksesi alami perlu dipantau, bukan dipaksa. Pengelola perlu mengetahui jenis tumbuhan apa yang muncul, seberapa cepat pertumbuhannya, dan apakah tumbuhan tersebut merupakan bagian dari komunitas asli. 

Lahan yang hijau karena didominasi satu atau dua jenis tumbuhan belum tentu memiliki keanekaragaman yang baik. Pemantauan berkala akan membantu membedakan antara pemulihan yang sehat dan sekadar penghijauan sementara.

Perbedaan waktu pemulihan juga harus dipahami publik. Sabana dapat menunjukkan tanda-tanda pertumbuhan kembali dalam waktu relatif singkat setelah hujan, sedangkan pohon-pohon asli membutuhkan waktu lebih lama. 

BB TNBTS memperkirakan pemulihan pohon tertentu dapat memerlukan sekitar 3 sampai 5 tahun, sementara mekanisme pemulihan yang diterapkan mencakup proses alami, rehabilitasi, dan restorasi. 

Artinya, masyarakat tidak boleh menilai keberhasilan hanya dari kondisi kawasan beberapa minggu atau beberapa bulan setelah kebakaran. 

Kategori :