Ketika Persepsi Menjadi Tantangan Profesional: Antara Validasi, Integritas, dan Konsistensi

Senin 17-08-2026,16:28 WIB
Oleh: Ghifary Mahindisyah*

SEBAGAI pebisnis dan konsultan bisnis yang berkecimpung di beberapa bidang usaha, sekaligus melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan klinis kedokteran, saya menemukan satu pola yang menarik dari berbagai lingkungan yang saya alami. 

Meskipun karakter, tuntutan, dan struktur setiap sektor berbeda, ada satu persoalan yang terasa sangat universal: kebutuhan manusia untuk mendapatkan penerimaan dan validasi dari orang lain.

Pengalaman di dunia usaha mempertemukan saya dengan dinamika antara pemimpin, karyawan, mitra, klien, dan berbagai pemangku kepentingan. 

Sementara itu, pengalaman di lingkungan pendidikan dan pelayanan kesehatan menghadirkan dinamika yang berbeda, dengan tekanan akademik, hierarki, kerja tim, dan tuntutan profesional yang tidak kalah kompleks. 

Dari berbagai pengalaman tersebut, saya melihat bahwa konflik interpersonal sering kali tidak berhenti pada persoalan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yaitu kebutuhan seseorang untuk dipahami, diterima, dan dipersepsikan secara positif oleh orang lain.

Hal tersebut membuat saya tertarik untuk membahas validasi sosial dan bagaimana manusia merespons ketika dirinya mendapatkan penilaian negatif. 

Apa yang terjadi ketika kita sudah menjelaskan maksud kita, tetapi orang lain tetap memiliki persepsi yang berbeda? Mengapa kita terkadang merasa perlu terus menjelaskan diri, bahkan setelah kita merasa telah menyampaikan apa yang memang perlu disampaikan? 

Juga, pada titik mana kita perlu mempertahankan diri, sedangkan pada titik lain justru perlu berhenti mengejar pengakuan dari orang lain?

Menurut saya, pertanyaan itu tidak hanya relevan dalam hubungan pertemanan. Fenomena yang sama dapat ditemukan dalam organisasi, dunia usaha, lingkungan akademik, maupun pelayanan kesehatan. 

Bahkan, sebagai seseorang yang cukup lama berada dalam lingkungan profesional, saya sendiri masih terus belajar bagaimana mengendalikan kebutuhan untuk dipahami, menerima bahwa tidak semua orang akan memiliki persepsi yang sama, serta menentukan kapan sebuah penjelasan memang diperlukan dan kapan kita perlu membiarkan konsistensi perilaku berbicara dengan sendirinya.

Persoalan validasi pada dasarnya sangat manusiawi. Namun, persoalannya bukan apakah kita membutuhkan validasi sama sekali, melainkan seberapa jauh penilaian orang lain menentukan cara kita melihat diri sendiri.

Lun dkk. (2023), melalui penelitian lintas budaya pada mahasiswa dari 24 negara dalam 29 kelompok budaya, menemukan bahwa kebutuhan untuk memperoleh persetujuan dari orang lain tidak otomatis menghasilkan penyelesaian konflik yang lebih baik. 

Temuan itu menarik karena dalam kehidupan sehari-hari kita sering menganggap bahwa makin banyak kita menjelaskan diri, makin besar kemungkinan orang lain memahami kita. 

Padahal, ketika tujuan utama berubah menjadi mendapatkan pengakuan, konflik dapat bergeser dari upaya menyelesaikan persoalan menjadi upaya mengubah persepsi orang lain.

Persepsi sosial sendiri tidak selalu terbentuk secara objektif. Normansell dan Wisco (2017) menemukan bahwa individu yang lebih sensitif terhadap penolakan cenderung lebih mudah memberikan interpretasi negatif terhadap situasi sosial yang ambigu. 

Kategori :