Deepfake dan AI: Ketika Video Tidak Lagi Bisa Dipercaya

Rabu 19-08-2026,13:08 WIB
Oleh: Nur Ahlina Febriyati*

Ada permintaan transfer yang tidak biasa? Telepon kembali lewat nomor yang sudah dikenal. Ada video mengejutkan dari tokoh publik? Cari sumber aslinya. Jangan percaya hanya karena videonya terlihat meyakinkan.

Ancaman lain muncul di dunia politik. Ini lebih sensitif. Sebuah video palsu bisa dibuat seolah-olah kandidat politik menghina kelompok tertentu, mengakui sesuatu, atau menyampaikan pernyataan ekstrem. Bayangkan video itu muncul dua hari sebelum pemilihan. Bantahan mungkin datang. Pemeriksaan fakta mungkin dilakukan. Tetapi persepsi publik sudah telanjur terbentuk. 

Yang lebih rumit, deepfake juga menciptakan masalah kebalikannya. Video asli bisa dituduh palsu.

Orang yang benar-benar terekam mengatakan sesuatu dapat saja membantah: “Itu buatan AI.” Akhirnya masyarakat menghadapi dua persoalan sekaligus: yang palsu dianggap asli, yang asli dianggap palsu. Lalu siapa yang dipercaya?

Media sosial memperparah keadaan. Algoritma platform menyukai konten yang membuat orang berhenti, marah, tertawa, takut, atau penasaran. Semakin tinggi interaksi terjadi, semakin luas penyebarannya.

Deepfake sangat cocok dengan pola itu. Kontennya mengejutkan. Kontroversial. Mengundang komentar. Dan, tentu saja, mengundang tombol “bagikan”. 

Ada satu perubahan perilaku yang tidak kalah penting. Dulu kita bertanya, “Siapa yang mengatakan ini?” Sekarang pertanyaannya harus bertambah: “Benarkah dia yang mengatakan ini?” 

BACA JUGA:Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno

BACA JUGA:Mitos 'Buku dari Barat': Arkeologi Pengerdilan dan Genealogi Hegemoni

Identitas digital tidak lagi cukup dibuktikan oleh wajah dan suara. Keduanya sudah bisa disintesis. Pleh karena itu, kehati-hatian bukan bentuk paranoia, Namunh al itu adalah bagian dari literasi digital baru. Oleh karena itu, kemampuan seseorang mengenali konten manipulasi menjadi penting.

Pertama, periksa sumber video. Apakah berasal dari akun resmi, media kredibel, atau sekadar unggahan ulang tanpa konteks?

Kedua, perhatikan detail. Gerakan bibir yang tidak pas dengan suara, perubahan cahaya pada wajah, ekspresi yang terasa kaku, atau bagian rambut dan gigi yang tampak aneh bisa menjadi petunjuk.

Ketiga, dengarkan suara. AI kadang menghasilkan intonasi terlalu datar, jeda yang tidak wajar, atau emosi yang terasa tidak alami.

Keempat, cari pembanding. Bila peristiwa itu penting, biasanya ada rekaman atau pemberitaan dari sumber lain.

Kelima, jangan buru-buru membagikan info tersebut. Ini yang paling sulit karena jempol seringkali lebih cepat daripada pikiran.

Bagi dunia pendidikan, khususnya Teknik Informatika, fenomena ini menjadi peringatan yang sangat penting. Mahasiswa tidak cukup hanya belajar membuat teknologi. Tetapi, mereka juga harus memahami akibat sosial dari teknologi yang mereka bangun.

Kategori :