Deepfake dan AI: Ketika Video Tidak Lagi Bisa Dipercaya

Rabu 19-08-2026,13:08 WIB
Oleh: Nur Ahlina Febriyati*

Dulu orang bilang bahwa ‘seeing is believing’ atau  melihat adalah percaya. Bagaimana dengan sekarang? Belum tentu.

Sebab yang kita lihat di layar bisa jadi tidak pernah terjadi. Wajah seseorang bisa dipasang ke tubuh orang lain. Bibirnya bergerak. Suaranya terdengar meyakinkan. Bahkan ekspresinya pun mirip. Padahal semuanya hasil rekayasa. Itulah ‘deepfake’.

Istilah ‘deepfake’ berasal dari gabungan kata deep learning dan fake. Sederhananya, teknologi ini menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat atau memanipulasi gambar, suara, dan video agar tampak seperti asli. 

Cara kerjanya sebenarnya mudah dipahami. AI diberi banyak contoh foto, video, atau rekaman suara seseorang. Dari data tersebut kemudian sistem mempelajari bentuk wajah, gerakan bibir, cara tersenyum, intonasi, sampai dengan pola bicaranya. Setelah cukup belajar, AI akhirnya bisa menghasilkan konten baru yang menyerupai orang tersebut.

Dulu, hasil kerja AI masih sering aneh dan lucu.  Karena tidak sinkron antar anggota bagian tubuh dengan mimic, dan akhirnya sering terlihat aneh. Gerakan bibir terlihat kaku dan kadang bayangan wajah terasa janggal.

BACA JUGA:Merdeka yang Sebenarnya

BACA JUGA:Kewarganegaraan Ganda Terbatas: Menarik Talenta, Menjaga Negara

Saat ini, kualitas deepfake makin halus. Kadang orang awam sulit membedakan mana video asli dan mana video buatan AI hanya dengan menonton beberapa detik. 

Di sinilah masalah mulai serius terjadi. Teknologi deepfake sebenarnya tidak selalu berdampak buruk. Industri film memakainya untuk efek visual. Kreator dapat menggunakannya untuk dubbing, sinkronisasi bahasa, karakter digital, dan berbagai kebutuhan kreatif. Masalah muncul ketika teknologi itu dipakai untuk menipu. 

Bayangkan sebuah video beredar di media sosial. Seorang tokoh terkenal terlihat mengatakan sesuatu yang sangat kontroversial. Video itu dipotong pendek. Diberi judul provokatif. Lalu dikirim ke grup WhatsApp, TikTok, Instagram, Facebook, dan berbagai platform lain. Dalam hitungan menit, ribuan orang percaya seolah orang asli. Klarifikasi baru datang belakangan dan hal itu sudah terlambat.

Begitulah munculnya hoaks yang bekerja di era AI. Informasi palsu bergerak dengan cepat. Verifikasi bergerak lebih lambat. Deepfake membuat hoaks punya “wajah”. Punya “suara”. Bahkan punya “bukti video”. Ini jauh lebih berbahaya dibandingkan kabar bohong biasa.

Penipuan pun ikut naik kelas. Bayangkan saja ketika kita menerima telepon dari seseorang yang suaranya persis anak, saudara, atasan, atau rekan bisnis kita. Padahal sebenarnya anak kita tidak melakukannya. Anak seolah panik, karena katanya sedang dalam masalah. Minta uang segera ditransfer sebagai tebusan. Karena suaranya familiar, kita bisa langsung percaya. Padahal suara itu mungkin dibuat AI.

BACA JUGA:Qanun Asasi, Khazanah Keulamaan yang Menjadi Fondasi Kebangsaan

BACA JUGA:Ketika Persepsi Menjadi Tantangan Profesional: Antara Validasi, Integritas, dan Konsistensi

Di lingkungan perusahaan, modusnya bisa lebih rumit lagi. Pegawai menerima pesan suara atau video seolah-olah dari pimpinan. Isinya perintah transfer dana atau pengiriman data penting.

Kalau hanya mengandalkan mata dan telinga saja, kita bisa kalah dengan rekayasa hasil AI ini. Karena itu, verifikasi menjadi kebiasaan baru yang wajib.

Kategori :