Jejak Guruh Sukarnoputra dalam Reposisi Budaya Bali

Jejak Guruh Sukarnoputra dalam Reposisi Budaya Bali

GURUH SUKARNOPUTRA bersama Guruh Gipsy dalam Synchronize Fest 2025. --X/Historia ID

Seni dan budaya Bali selalu berada antara mempertahankan tradisi yang sakral dan merespons arus modernisasi yang tak terelakkan. Muhammad Guruh Irianto Sukarnoputra yang berpulang 26 September 2026 lalu mampu merevitalisasinya dalam kemasan populer. 

BALI bukan sekadar pesanggrahan bagi Guruh. Sembari meneduhkan emosi di sana, putra bungsu Presiden Sukarno dan Fatmawati itu menemukan bahwa Pulau Dewata adalah panggung estetika yang kaya akan ritme, seni tari, dan spiritualitas. 

Pada era 1970-an, Guruh merajut seni tradisi Bali dalam napas pop modern. Ia menciptakan gelombang baru yang mengangkat derajat musik dan tarian Bali di kancah nasional maupun internasional.

Berkesenian, Mendobrak Zaman 

Ketertarikan Guruh pada seni dan budaya Nusantara tumbuh sejak masa kanak-kanak. Ia belajar tari tradisional seperti Jawa, Sunda, dan Bali ketika usianya sekitar 5 tahun. Kiprahnya menjadi jauh lebih serius dan mendalam ketika ia beranjak dewasa. 

BACA JUGA:Guruh Soekarnoputra Berpulang, PDIP Jatim Kehilangan Sosok yang Punya Jejak Panjang Politik dan Seni

BACA JUGA:Guruh Soekarnoputra Wafat di Usia 73 Tahun, Keluarga Sampaikan Kabar Duka

Pada periode 1969–1972, Guruh memperdalam seni tari dan karawitan tradisional Bali serta Jawa langsung kepada para maestro terkemuka. I Wayan Diya, I Wayan Rindi, Ni Ketut Reneng, I Nyoman Kakul, I Gusti Kompyang Raka, dan Anak Agung Gde Ngurah Mandera adalah guru-gurunya. Interaksi Guruh dengan budaya Bali benar-benar asli. 

Saat berkuliah di Amsterdam pada 1973–1974, Guruh aktif sebagai anggota sekaligus pengajar gamelan Jawa/Bali di Tropenmuseum. Ia juga mengajar tari Bali melalui organisasi mahasiswa CREA di Universiteit van Amsterdam. 

Pada titik ini, Guruh telah bertransformasi dari pembelajar menjadi penyebar budaya Bali dengan misi memperkenalkannya ke panggung global. Kini, yang Guruh lakukan disebut diplomasi budaya.

Kecintaan Guruh pada Bali kian mewujud dalam wadah kesenian Swaragantara. Diikuti lahirnya album fenomenal Guruh Gipsy pada 1976. Ia melakukan lompatan berani yang belum pernah ada sebelumnya.

BACA JUGA:Profil Guruh Soekarnoputra, Adik Megawati dan Seniman Guruh Gipsy yang Tutup Usia di Semangi Hari Ini

BACA JUGA:Guruh Soekarnoputra Usul Jokowi Jadi Ketum PDIP, Partai Keluarga Terancam

Mengajak para seniman gamelan Bali terkemuka, seperti I Gusti Kompyang Raka, Guruh memadukan orkestrasi gamelan Bali yang dinamis dan rumit dengan aliran rock progresif.

Dalam lagu ikonik Indonesia Maharddhika, alunan instrumen pelegongan Bali tidak hanya menjadi tempelan atau latar belakang. Harmoninya melebur secara organis bersama alunan synthesizer dan gitar elektrik. 

Eksperimen itu menjadi bukti otentik bahwa seni tradisi Bali memiliki fleksibilitas luar biasa untuk berdialog dengan zaman tanpa kehilangan identitas maupun daya magisnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: