BACA JUGA: Kewenangan dan Kepatutan: Pergantian Pemimpin Tanpa Kesalahan dan Penjelasan
Aksi bisa berawal dari kemampuan membaca persoalan di sekitar, menyusun informasi yang tepercaya, lalu mengajak orang lain bergerak. Namun, agar tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, aksi itu memerlukan tujuan yang jelas, dukungan memadai, dan jejaring yang dapat memperluas dampaknya.
Dari Suara Menjadi Tindakan
Anak muda memiliki potensi besar untuk memetakan masalah, mendokumentasikan perubahan lingkungan, menyampaikan pengalaman komunitas, membangun kampanye publik, hingga mengawal kebijakan. Peran mereka bukan untuk menggantikan warga atau pemerintah, melainkan memperkuat hubungan di antara keduanya.
Ketika suara komunitas tidak sampai ke ruang kebijakan, anak muda bisa membantu membawanya. Ketika kebijakan terasa terlalu teknis, anak muda bisa membantu menerjemahkannya kepada publik.
BACA JUGA: Perempuan NU, Kepemimpinan, dan Pintu yang Belum Terbuka
Bangkok memberi saya satu pengingat penting: gagasan anak muda tidak pernah kekurangan semangat, tetapi sering kali kehilangan jembatan agar terhubung dengan sumber daya, keputusan, dan kerja bersama.
Pelajaran terpentingnya bukanlah tentang satu kebijakan yang bisa langsung menyelesaikan krisis, melainkan bahwa perubahan membutuhkan jalur yang jelas: ada masalah lokal, ada usulan kebijakan, ada alokasi sumber daya, lalu ada pengawasan terhadap hasilnya.
Di antara alur tersebut, di mana peran anak muda?
Anak muda tidak boleh hanya berada di panggung untuk menyampaikan keresahan, atau sekadar menjadi wajah pemanis dalam foto kegiatan. Anak muda bisa membantu menghubungkan pengalaman warga dengan bukti yang mendorong keputusan: mendokumentasikan masalah, membaca anggaran, mengumpulkan data lokal, menyusun rekomendasi, dan mengawal pelaksanaannya.
BACA JUGA: Peran Kepemimpinan Perempuan yang Inklusif
Eksekutor Hari Ini
Suara anak muda akan jauh lebih kuat jika tidak berhenti pada kritik. Kritik tetap perlu, terutama ketika kebijakan tidak adil atau pelaksanaannya tertinggal. Namun, kritik akan menjadi daya dorong yang jauh lebih besar ketika disertai bukti lapangan, usulan yang jelas, dan keterikatan dengan komunitas terdampak.
Inilah ruang yang dapat diisi oleh gerakan pemuda—bukan untuk menggantikan warga atau pemerintah, melainkan mempertemukan gagasan, pengetahuan, dan aksi nyata. Anak muda dapat menerjemahkan isu rumit menjadi hal yang mudah dipahami publik: mengapa anggaran sampah berkaitan dengan kesehatan, mengapa perlindungan hutan berkaitan dengan penghidupan, atau mengapa kebijakan energi memengaruhi peluang kerja generasi mendatang.
Agar dampaknya berkelanjutan, kolaborasi perlu dibangun secara lebih terstruktur di mana parlemen daerah membuka ruang bagi masukan publik, pemerintah membagikan data transparan dan memperjelas mekanisme pendanaan, serta kampus dan organisasi masyarakat sipil membantu memperkuat riset dan kapasitas komunitas.
BACA JUGA: Kepemimpinan di Tengah Krisis: Menjaga Arah, Menjaga Amanah
Di saat yang sama, anak muda hadir membawa temuan lapangan dan mengawal seluruh tindak lanjutnya. Anak muda tidak perlu menunggu menjadi "pemimpin masa depan" untuk mulai menjalankan peran tersebut. Mereka sudah dan harus menjadi penggerak, penghubung, peneliti, pengawas, serta pelaksana di banyak ruang hari ini.
Tantangan utamanya sekarang adalah memastikan kerja-kerja tersebut tidak berjalan sendirian dan tidak padam ketika forum telah usai. (*)
*) Muh Dziya Ramadhani Alvaro adalah mahasiswa Ilmu Ekonomi FEB Universitas Airlangga-Dzulfikar SF-