Rektor, Suap, dan Luka Moral: Refleksi atas Krisis Keteladanan

Senin 24-08-2026,07:33 WIB
Oleh: Hery Purnobasuki*

Oleh karena itu, kasus tersebut harus menjadi momentum refleksi kolektif bagi seluruh pemimpin kampus untuk mengevaluasi kembali komitmen mereka terhadap integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam menjalankan tugas kepemimpinan. 

Bagi masyarakat Indonesia, kasus OTT rektor Unsoed itu juga menjadi ujian terhadap ketahanan moral bangsa dalam menghadapi godaan korupsi yang seolah sudah menjadi budaya tersembunyi di berbagai sektor. 

Jika pendidikan tinggi –yang seharusnya menjadi benteng terakhir pembentukan karakter dan nilai-nilai luhur– saja bisa ditembus oleh praktik korupsi, di mana lagi kita bisa berharap menemukan integritas yang masih utuh? 

Pertanyaan itu harus dijawab dengan tindakan nyata, bukan hanya dengan pernyataan-pernyataan normatif tentang pentingnya antikorupsi.  

Masyarakat perlu lebih kritis dalam mengawal institusi pendidikan, menuntut transparansi, dan tidak segan untuk melaporkan dugaan penyimpangan yang mereka temukan.  

Hanya dengan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, budaya integritas bisa benar-benar mengakar dan menjadi norma yang hidup dalam praktik sehari-hari. 

Pada akhirnya, kasus OTT rektor Unsoed itu adalah cermin retak yang menunjukkan betapa rapuhnya fondasi moral pendidikan tinggi Indonesia saat ini. Namun, di balik kepahitan tersebut, masih ada harapan bahwa peristiwa itu bisa menjadi titik balik untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.  

Harapan itu terletak pada kemampuan seluruh civitas academica untuk belajar dari kesalahan, memperkuat sistem pengawasan internal, dan kembali pada esensi pendidikan sebagai proses pembentukan manusia yang utuh, bukan sekadar produsen gelar dan sertifikat. 

Jika para pemimpin kampus bisa mengambil pelajaran dari kasus tersebut dan berkomitmen untuk menjalankan tugas mereka dengan integritas yang sesungguhnya, pendidikan tinggi Indonesia masih bisa menjadi menara moral yang diharapkan oleh masyarakat.  

Namun, jika kasus itu hanya dianggap sebagai insiden biasa yang akan berlalu begitu saja, kita harus siap menghadapi lebih banyak lagi kejatuhan panutan pendidikan di masa depan, dengan dampak yang makin merusak bagi generasi muda dan masa depan bangsa. (*)

*) Hery Purnobasuki adalah guru besar FST Universitas Airlangga dan ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga.

 

Kategori :