Rapper, Intelijen, dan Ledakan Sambal Matah

Jumat 28-08-2026,16:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Jangan kira krisis rantai pasok ini sekadar mitos. Ini matematika yang pasti. Bila Laut Hitam dikunci. Kapal-kapal gandum tertahan tanpa batas waktu. Pabrik roti dari Afrika sampai Asia perlahan berhenti beroperasi. Mereka kehabisan tepung.

Sanksi dijatuhkan silih berganti. Bahan baku pupuk menguap dari pasar dunia. Para petani kolaps dalam diam. Panen menyusut dan harga pangan merangkak naik tanpa ada yang bisa mengendalikan.

Saat pipa gas Eropa meledak, sebuah benua panik menghadapi musim dingin. Kargo gas alam cair diborong habis di tengah lautan. Harga energi memuncak. Di sudut dunia yang lain, pabrik-pabrik di negara berkembang terpaksa ditutup. Mesin-mesinnya berhenti bernapas.

Dinding lambung ekonomi global sedang diuji ketahanannya. Jangan sampai kita pelan-pelan tumbang karena menahan perihnya rasa pedas, lalu berakhir terbaring lemas di ruang gawat darurat. 

Sebab, pada akhirnya, tagihan rumah sakit itu tidak akan pernah dilunasi oleh Washington. Tidak juga oleh Moskow. Apalagi, oleh mereka yang malam ini masih asyik berdenting gelas di ruang VVIP. (*)

 

Kategori :