Bayangkan, sebuah perusahaan global sedang mempertimbangkan Indonesia sebagai lokasi produksi baru.
Perusahaan tersebut akan menghitung upah tenaga kerja, insentif investasi, luas pasar, dan biaya tanah. Namun, keputusannya tidak berhenti di sana.
Mereka akan bertanya: apakah pemasok lokal dapat diandalkan?
Apakah bahan baku tersedia secara konsisten?
Apakah pelabuhan dan transportasinya reliable?
Berapa lama lead time?
Seberapa mudah memperoleh informasi dari pemasok?
Apakah regulasinya predictable?
Dan, pertanyaan yang makin penting setelah pandemi dan berbagai konflik geopolitik: jika terjadi disrupsi, seberapa cepat supply chain dapat pulih?
Di sinilah ukuran pasar saja tidak cukup.
Indonesia memang memiliki pasar domestik yang sangat besar. Letaknya strategis. Sumber daya alamnya melimpah.
Namun, dalam kompetisi global supply chain, besar belum tentu reliable.
Capital Flow Bertemu Material Flow
Ada alasan lain mengapa persoalan MSCI dan supply chain tidak seharusnya dipisahkan terlalu jauh.
Ekonomi bekerja melalui berbagai aliran.
Pasar modal menggerakkan capital flow.