Emerging Market, Emerging Supply Chain?

Sabtu 29-08-2026,17:15 WIB
Oleh: Puspandam Katias*

Supply chain menggerakkan material flow.

Keduanya membutuhkan information flow.

Dan, semuanya semakin bergantung pada trust.

Modal yang masuk memungkinkan perusahaan membangun pabrik, memperbesar kapasitas, mengadopsi teknologi, mengembangkan warehouse, meningkatkan kualitas pemasok, serta memperluas jaringan distribusi.

Sebaliknya, supply chain yang buruk akan menghasilkan biaya tinggi, lead time panjang, persediaan berlebih, pelayanan buruk, dan pada akhirnya profitabilitas yang lebih rendah.

Pada titik itu, persoalan operasional kembali menjadi persoalan investor.

Siklusnya sederhana: market credibility → capital → investment → supply chain capability → operational performance → competitiveness → investor confidence.

Rantai itu bisa berputar ke atas.

Bisa pula berputar ke bawah.

Jangan Hanya Menjadi Pasar yang Besar

Ini yang menurut saya perlu menjadi refleksi Indonesia.

Kita terlalu sering bangga menjadi pasar yang besar.

Tetapi, perusahaan global tidak hanya mencari big market. Mereka juga mencari reliable ecosystem.

Karena itu, pembangunan jalan, pelabuhan, kawasan industri, digitalisasi logistik, dan hilirisasi memang penting. Namun, infrastruktur fisik hanyalah salah satu bagian.

Supply chain yang kompetitif juga membutuhkan supplier capability, end-to-end visibility, kualitas data, ketepatan waktu, integrasi digital, sustainability, resilience, dan institutional credibility.

Singkatnya, kita harus bergeser: dari cheap sourcing menuju reliable sourcing; dari logistics infrastructure menuju logistics reliability; dari supply chain visibility menuju supply chain trust; dan dari market size menuju market capability.

Kategori :