Era Digital: Orang Tua Dikerjai AI, Anak Curhat ke AI

Sabtu 05-09-2026,07:33 WIB
Oleh: Gagas Gayuh Aji*

Digitalisasi diam-diam mengimpit mental anak muda. Dunia berubah dengan cepat dan betapa mahal harga yang harus dibayar. Kecepatan perubahan itu perlahan mengikis salah satu daya tahan terpenting manusia.

Pada berbagai bacaan tentang digitalisasi, hal paling krusial yang hilang dari generasi sekarang adalah delayed gratification, ’kemampuan untuk menunda kenikmatan demi menghayati dan memproses sebuah perjalanan’. 

Anak-anak hari ini dibesarkan dalam ekosistem yang senantiasa menyuapkan kepuasan instan tanpa jeda, membuat mereka rentan gelisah ketika dihadapkan pada realitas yang butuh proses. Kenyataannya, hari ini kita sering melihat paradoks yang cukup unik di dalam rumah. 

Di satu sisi, kita geleng-geleng kepala saat melihat orang tua yang gampang sekali tertipu hoaks video AI, foto rekayasa, atau pesan berantai di WhatsApp. Generasi yang katanya lebih berpengalaman itu justru gagap membedakan mana realitas dan mana manipulasi algoritma. 

BACA JUGA:Era Digital: Generasi Terkoneksi yang Kehilangan Perjumpaan

BACA JUGA:Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?

Namun, ironisnya, di rumah yang sama, anak-anak muda mereka justru memilih menyerahkan cerita hidup, keluh kesah, hingga isi hati kepada kecerdasan buatan. 

Orang tuanya dikerjai AI karena terlalu polos, sedangkan anaknya dengan sadar menjadikan AI sebagai tempat curhat karena merasa tak ada manusia di rumah yang mau mendengarkan.

Lenyapnya Ruang Jeda

Problem mendasar komunikasi dalam keluarga adalah presence deficit atau defisit kehadiran emosional orang tua. Ketika orang tua tak punya perhatian pada anak-anak, algoritma pun hadir.  Hadir membawa penawaran menggiurkan sebagai barang substitusi paling murah untuk mengasuh anak, yaitu kepuasan visual instan melalui layar.

Data BPS menunjukkan, 33,44 persen anak usia dini di Indonesia sudah aktif menggunakan gawai, dan sejumlah laporan mencatat screen time anak-anak kini mencapai kisaran 7,5 jam per hari. Angka itu adalah cermin betapa masifnya pengasuhan yang telah diserahkan kepada mesin.

BACA JUGA:Bahasa Indonesia sebagai Mata Kuliah Wajib Mahasiswa, Tingkatkan Kecakapan Berbahasa di Era Digital

BACA JUGA:Kerinduan Fisik di Era Digital

Kehadiran algoritma pemutar video otomatis dan media sosial tidak pernah dirancang untuk tumbuh kembang psikologis anak, melainkan demi retention, yaitu menahan perhatian demi perputaran iklan dan banjir dopamin instan.

Dampaknya fatal. Anak dibiasakan terhindar dari rasa bosan. Setiap kali rasa jenuh muncul, layar langsung menyuapkan stimulasi cepat. Padahal, rasa bosan adalah ruang jeda alami. Di situlah imajinasi berkembang dan kemampuan menunda kenikmatan demi proses mulai tumbuh.

Kategori :