Dinamika Gen Z Memaknai Ruang Digital: Bukan Generasi Dangkal
ILUSTRASI Dinamika Gen Z Memaknai Ruang Digital: Bukan Generasi Dangkal.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-
MENANGGAPI tulisan Senja Kala Aktivisme Kampus (Harian Disway, 13 Agustus 2026) yang ditulis dosen kami, Imron Rosyidi dan Imam Sofyan, yang menyoroti pergeseran aktivisme Kampus dari substansi menuju panggung validasi digital, kami ingin menawarkan perspektif yang berbeda sebagai respons atas artikel tersebut.
Generasi Z kerap kali dicap sebagai generasi yang berpikir dangkal akibat kedekatannya dengan gawai dan media sosial. Anggapan itu muncul dari kekhawatiran bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi secara cepat dan instan membuat mereka kurang mampu berpikir mendalam. Namun, benarkah demikian?
Generasi Z dikenal sebagai ”generasi internet” karena tumbuh di era perkembangan teknologi yang pesat, terutama dengan hadirnya perangkat seperti ponsel pintar. Berbeda dengan generasi milenial yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 1994, generasi Z memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan inovasi teknologi dan dianggap sebagai generasi yang sangat kreatif (Oustin, 2023).
BACA JUGA:Senja Kala Aktivisme Kampus
BACA JUGA:Tantangan Parenting Gen Z: Anak Diasuh Orang Tua atau Algoritma?
Dalam ranah perguruan tinggi, mahasiswa dari kelompok itu menunjukkan karakteristik komunikasi yang sangat khas, yakni responsif, visual, berbasis emoji dan simbol, serta mengandalkan platform daring seperti WhatsApp, Instagram, atau Google Meet sebagai medium utama interaksi akademik atau sosial.
Bagaimana Gen Z Sebenarnya Memaknai Ruang Digital
Ruang digital dapat diistilahkan era digital yang merujuk pada seluruh aktivitas yang mendukung kehidupan telah menjadi lebih mudah berkat perkembangan teknologi. Di era digital itu, gaya hidup manusia secara umum telah berubah dan sangat bergantung pada perangkat elektronik.
Teknologi kini menjadi alat yang dapat memenuhi banyak kebutuhan manusa. Meskipun era digital membawa berbagai perubahan positif yang bisa dimanfaaatkan dengan maksimal, pada saat yang sama, era tersebut juga menghadirkan dampak yang tidak selalu baik, yang menjadi tantangan baru bagi kehidupan manusia di zaman digital ini.
Ruang digital bagi mahasiswa hari ini bukan sekedar panggung mencari validasi. Ia lebih menyerupai ruang kelas tanpa dinding, tempat isu-isu yang dulu hanya dibahas di forum diskusi kampus kini bisa diakses, diperdebatkan, dan diverifikasi bersama oleh siapa saja, kapan saja.
Mahasiswa, yang dulu harus menunggu giliran bicara di mimbar bebas, sekarang bisa langsung menyusun utas berisi data, dokumen, dan kronologi yang bisa diperiksa balik oleh publik dalam hitungan jam.
Cara memaknai ruang itu juga berbeda dari generasi sebelumnya. Jika dulu legitimasi seorang aktivis diukur dari seberapa tebal bacaannya dan seberapa lama ia duduk di organisasi, mahasiswa hari ini menambahkan satu ukuran baru: seberapa cepat dan akurat ia mampu menghubungkan potongan informasi yang berserakan menjadi satu narasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hal itu bukan literasi yang lebih rendah daripada membaca buku tebal, melainkan literasi yang bekerja dengan logika berbeda, yakni menyambungkan titik-titik informasi lintas sumber secara tepat, bukan menyelami satu sumber secara perlahan.
Antara Potensi dan Kenyataan: Ruang Digital sebagai Pisau Bermata Dua
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: