Gig Economy: Solusi atau Sekadar Bantalan?

Senin 07-09-2026,14:42 WIB
Oleh: Sukarijanto*

Di sinilah perbedaan antara employment quantity dan employment quality menjadi penting.

Bank Dunia melihat ekonomi platform dengan pendekatan yang relatif pragmatis. Platform digital dapat menciptakan kesempatan kerja, terutama bagi kelompok yang selama ini sulit masuk pasar kerja: kaum muda, perempuan, pekerja berpendidikan rendah, dan masyarakat yang tinggal jauh dari pusat industri. 

Bank Dunia bahkan mencatat bahwa pekerjaan berbasis platform telah membuka peluang ekonomi bagi jutaan orang yang tidak harus tinggal di kawasan industri. Namun, Bank Dunia juga mengingatkan sisi lainnya. Pekerjaan platform menghadapi persoalan status hukum, ketidakpastian pendapatan, minimnya perlindungan sosial, tidak adanya tabungan untuk menghadapi risiko, serta persoalan algoritma yang menentukan distribusi pekerjaan. 

Itu menunjukkan satu hal penting: Bank Dunia tidak melihat gig economy sebagai pengganti pekerjaan formal, tetapi sebagai bagian baru dari arsitektur pasar kerja yang membutuhkan institusi baru.

OECD mengambil posisi yang hampir sama. Studi OECD menemukan bahwa ukuran gig economy dalam definisi tertentu masih relatif kecil, sekitar 1–3 persen dari total pekerjaan, dan pertumbuhannya banyak terjadi pada sektor jasa yang memang memiliki proporsi pekerja mandiri tinggi. 

Platform dapat meningkatkan efisiensi pencocokan pekerja dan pengguna jasa, tetapi dampaknya terhadap pekerjaan bergaji dan upah tidak selalu positif. OECD bahkan mengingatkan bahwa platform work menghadirkan persoalan keamanan pendapatan, perlindungan sosial, pengembangan karier, pelatihan, hak tawar kolektif, dan manajemen algoritmik. 

Dengan kata lain, gig economy dapat menutup sebagian celah kuantitas pekerjaan, tetapi belum otomatis menutup gap kualitas pekerjaan. Di sinilah titik krusialnya.

Ketika Gig Economy Menjadi Bantalan Pendapatan

Meski demikian, tidak adil jika gig economy hanya dilihat sebagai bentuk baru eksploitasi. Dalam banyak negara berkembang, ia justru berfungsi sebagai shock absorber pasar kerja.

Afrika Selatan merupakan contoh menarik. Kajian Bank Dunia menemukan bahwa pada 2018 platform digital diperkirakan telah mendukung lebih dari 1,3 juta pekerjaan, setara dengan sekitar 5,5 persen dari angkatan kerja pada saat itu. 

Uber dan Bolt diperkirakan menciptakan hampir 34.000 pekerjaan, sedangkan Uber Eats dan MrD sekitar 6.400 pekerjaan. Platform jasa domestik SweepSouth bahkan dilaporkan menciptakan sekitar 15.000 pekerjaan, terutama bagi perempuan berkeahlian rendah.

Namun, angka tersebut harus dibaca hati-hati. Tidak seluruhnya merupakan net new jobs. Sebagian adalah pekerjaan yang berpindah dari sektor tradisional ke platform digital. Bank Dunia sendiri memberikan catatan demikian.

Kendati demikian, efek ekonominya tetap penting. Platform mempertemukan permintaan dan penawaran yang sebelumnya tidak terhubung. Seorang perempuan di township dapat memperoleh pelanggan tanpa harus memiliki toko. 

Seorang pengemudi dapat memperoleh penumpang tanpa membangun perusahaan transportasi. Restoran kecil dapat memperluas pasar tanpa membangun armada pengiriman sendiri.

India memberikan contoh yang lebih menarik lagi. Eksperimen Bank Dunia pada pekerja platform menunjukkan bahwa akses terhadap modal produktif berupa skuter dapat meningkatkan jumlah pekerjaan yang diselesaikan sebesar 9 persen dan pendapatan mingguan sebesar 13 persen, sedangkan jam kerja tidak bertambah. 

Artinya, teknologi dan modal dapat meningkatkan pendapatan per jam, bukan sekadar memaksa pekerja bekerja lebih lama.

Kategori :