Gig Economy: Solusi atau Sekadar Bantalan?

Gig Economy: Solusi atau Sekadar Bantalan?

ILUSTRASI Gig Economy: Solusi atau Sekadar Bantalan?.-Gemini-

ADA paradoks yang makin sulit diabaikan dalam perekonomian global. Teknologi menciptakan lebih banyak cara untuk bekerja, tetapi tidak selalu menciptakan lebih banyak pekerjaan yang layak. 

Ketika perusahaan menahan ekspansi, investasi melambat, dan ketidakpastian geopolitik membuat dunia usaha lebih berhati-hati dalam merekrut pekerja tetap, pasar kerja justru membuka pintu melalui pekerjaan yang lebih cair: freelance, pengemudi transportasi daring, kurir, pekerja proyek, tutor digital, kreator konten, hingga pekerja mikro yang mengerjakan tugas-tugas digital dari rumah.

Glints mendefinisikannya sebagai sistem kerja yang banyak menggunakan pekerja independen atau kontrak jangka pendek. Daya tarik utamanya adalah fleksibilitas: seseorang dapat mengambil beberapa proyek sekaligus dan perusahaan dapat memperoleh tenaga kerja sesuai kebutuhan tanpa menanggung seluruh biaya pekerja tetap. 

Namun, di balik fleksibilitas itu, terdapat persoalan perlindungan sosial, kepastian pendapatan, jenjang karier, dan potensi eksploitasi.

BACA JUGA:The Gig Economy, Penyelamat Pengangguran

BACA JUGA:Mahasiswa Universitas Syiah Kuala Diajak Raih Peluang Kreatif di Era Gig Economy

Pertanyaannya bukan lagi apakah gig economy akan berkembang. Ia sudah berkembang. Pertanyaan strategisnya adalah: apakah gig economy akan menjadi jembatan menuju pekerjaan yang lebih produktif dan berpendapatan lebih baik atau justru menjadi tempat parkir permanen bagi tenaga kerja yang gagal masuk ke pasar kerja formal?

Dalam perspektif makroekonomi, pertumbuhan ekonomi pada akhirnya harus diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas, pendapatan, dan kesempatan kerja. Produk domestik bruto yang meningkat tetapi tidak diikuti oleh peningkatan kualitas pekerjaan menciptakan apa yang dalam diskursus pembangunan sering disebut jobless growth.

Itu menjadi makin relevan ketika perekonomian dunia bergerak dalam ketidakpastian. IMF pada Juli 2026 memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya sekitar 3 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi 3,4 persen pada 2027. 

Ketidakpastian geopolitik, guncangan energi, dan risiko perdagangan tetap menjadi sumber tekanan. Dalam kondisi seperti itu, perusahaan cenderung melakukan labour hoarding secara selektif, menunda perekrutan permanen, dan meningkatkan penggunaan tenaga kerja fleksibel. 

BACA JUGA:Debat Pilgub Jatim 2024: Khofifah Paparkan Capaian Kesehatan, Emil Bicara Gig Economy

Gig economy menjadi instrumen yang secara ekonomi rasional bagi perusahaan: biaya tenaga kerja lebih variabel dan kapasitas produksi dapat disesuaikan dengan permintaan.

Pekerjaan yang fleksibel memang dapat menurunkan pengangguran terbuka, tetapi belum tentu meningkatkan labour productivity dan pendapatan riil secara berkelanjutan. 

Jika seorang pekerja harus mengemudi 12 jam sehari, mengambil berbagai pekerjaan sambilan, atau mengerjakan puluhan tugas digital untuk memperoleh pendapatan yang sekadar mencukupi kebutuhan hidup, statistik ”bekerja” memang membaik, tetapi kualitas pekerjaan belum tentu membaik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: