Di Indonesia, nama Airlangga Pribadi dikenal sebagai salah seorang pemikir bidang politik yang sering kali menjadi rujukan penting di berbagai media massa nasional, forum ilmiah, dan diskusi publik. Ia merupakan figur akademisi yang tak ragu menyuarakan kepakarannya demi keberlangsungan demokrasi Indonesia.
Kepergian ketua Program Studi S-2 Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair) yang mendadak itu menyentak kesadaran kita: kita kehilangan salah satu motor penggerak tradisi intelektual muda yang paling gigih, otonom, dan senantiasa setia berada di garis terdepan dalam membela dan memperjuangkan demokrasi serta keadilan sosial.
Di antara dosen FISIP Universitas Airlangga, Angga dikenal paling lantang menyuarakan arti penting demokrasi. Angga dikenal sebagai intelektual yang berhasil menjembatani teori-teori politik yang rumit ke dalam pembicaraan publik yang membumi.
Kepergiannya memanggil ingatan kita kembali pada warisan luhur dedikasi seorang intelektual yang tak sudi menyerahkan naluri kritisnya kepada kenyamanan struktur kekuasaan.
Saya sendiri diam-diam mengagumi Angga. Tidak banyak dosen yang memiliki keberanian melontarkan kritik seperti Angga. Sebagai intelektual muda, menurut saya, Angga adalah perwujudan dari apa yang sering disebut Antonio Gramsci sebagai intelektual organik.
Akar pemikiran kritisnya tidak hanya terdengar di ruang-ruang kuliah dan didengarkan mahasiswanya, tetapi suaranya juga banyak berkumandang di ruang-ruang diskusi, ruang publik, dan media sosial.
Pengalaman masa muda Angga menentang rezim otoriter Orde Baru memberikan watak yang khas pada karakter akademisnya di kemudian hari: ketajaman analisis empiris yang berpadu kuat dengan komitmen moral pada nasib rakyat kecil.
Salah satu sumbangan pemikiran terpenting Angga dibukukan dalam karyanya yang bertajuk The Vortex of Power: Intellectuals and Politics in Indonesia’s Post-Authoritarian Era yang diterbitkan Palgrave Macmillan pada 2019.
Karya Angga memang tidak hanya buku dalam bahasa Indonesia, melainkan juga buku dalam bahasa Inggris yang diterbitkan penerbit internasional yang bereputasi.
Buku Angga terbitan Palgrave Macmillan itu merupakan refleksi mendalam sekaligus kritik keras terhadap fenomena ”kooptasi intelektual” di Indonesia.
Angga dengan jernih membedah bagaimana para pemikir dan akademisi, yang dahulu garang dalam gerakan sosial, perlahan-lahan tersedot ke dalam pusaran kekuasaan, menjadi stempel pembenaran kebijakan rezim, dan kehilangan daya kritis.
Fenomena aktivitas yang kemudian dikritik seperti pengkhianat reformasi seperti terjadi belum lama ini adalah salah satu hal yang dikritik Angga.
Ketika tidak sedikit intelektual yang lebih memilih mendekat pada pusat-pusat kekuasaan demi posisi struktural atau pengaruh politik praktis, Angga memilih jalan tetap menjadi intelektual yang otonom.
Ia dalam berbagai kasus memilih menjaga jarak dengan kekuasaan agar matanya tetap awas melihat ketimpangan, pelanggaran HAM, pengkhianatan demokrasi, dan suaranya tetap nyaring menyuarakan kebenaran.
Warisan