HARIAN DISWAY - Filsuf Friedrich Nietzsche memperkenalkan gagasan eternal recurrence atau pengulangan abadi.
Itu merupakan cara untuk mempertanyakan apakah manusia mampu menerima seluruh kehidupan yang dijalaninya.
Eternal recurrence menjadi salah satu gagasan paling terkenal dalam pemikiran Friedrich Nietzsche. Secara sederhana, gagasan itu membayangkan kehidupan yang terus berulang tanpa akhir.
Pertanyaan pentingnya, apakah Nietzsche benar-benar menganggap kehidupan manusia akan berulang secara harfiah.
BACA JUGA:Epictetus dan Filsafat Stoik tentang Kesabaran: Buah Tak Tumbuh Seketika
BACA JUGA:Wuxing, Teori Lima Unsur dalam Filsafat dan Pengobatan Tradisional Tiongkok
Atau, apakah eternal recurrence sebenarnya merupakan sebuah metafora. Dan percobaan pemikiran tentang cara manusia memandang kehidupannya.
Friedrich Nietzsche, filsuf yang terkenal dengan filsafat Eternal Recurrence. -AI-The Collector
Dalam The Gay Science, Nietzsche menggambarkan sebuah pertanyaan melalui sosok iblis. Ia datang kepada manusia dalam kesendiriannya.
"Bagaimana jika suatu hari atau malam, seorang iblis datang kepadamu dalam kesendirian yang paling sunyi. Lalu iblis itu berkata: Kehidupan yang sekarang kamu jalani dan telah kamu jalani ini, harus kamu jalani sekali lagi dan berkali-kali lagi."
"Dan tidak akan ada sesuatu yang baru di dalamnya. Setiap rasa sakit, setiap kegembiraan, setiap pikiran, dan setiap keluhan akan kembali kepadamu dalam urutan yang sama."
BACA JUGA:Mengikuti Diskusi Teosofi di Sanggar Penerangan Surabaya: Filsafat, Sains, dan Spiritualitas
BACA JUGA:Cegah Deforestasi dan Bencana, Belajar dari Filsafat Konfusius
Nietzsche menyebut gagasan itu sebagai "beban terbesar". Sebab, manusia harus membayangkan kemungkinan menjalani kembali seluruh kehidupannya. Tanpa ada satu pun hal yang berubah.
Kehidupan yang berulang. Gagasan Nietzsche tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru.