Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Senin 14-09-2026,12:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

BACA JUGA:Mengenal Jia Baoyu, Tokoh Utama A Dream of Red Mansions yang Sarat Makna Filosofis

Di situlah amor fati atau cinta pada takdir menjadi bagian penting dalam pemikirannya. Kehidupan Nietzsche pun tidak lepas dari penderitaan. 

Ia kehilangan ayahnya pada usia muda, mengalami masalah kesehatan, dan pemikirannya tidak sepenuhnya mendapat pengakuan ketika masih hidup.

Karena itu, eternal recurrence juga dapat dikaitkan dengan pertanyaan Nietzsche terhadap kehidupannya sendiri. 


Nietzsche di ranjang kematiannya, difoto oleh fotografer tak dikenal, sekitar tahun 1899.--The Collector

Ia seolah terus menanyakan apakah seluruh kehidupan yang dijalani layak untuk diterima dan diulang kembali.

BACA JUGA:Filosofi Monozukuri dalam Karya Para Seniman Jepang di UYCC Art Gallery, Detail Kecil menjadi Kekuatan Besar

BACA JUGA:Deretan Interior Tangga Terbaik Dunia 2025, Simbol Artistik dan Narasi Filosofis

Bagi Nietzsche, eternal recurrence dapat menjadi "beban terbesar". Tetapi juga memiliki kekuatan untuk membebaskan manusia dari masa lalu. 

Gagasan tersebut mengajak manusia menerima semua hal yang telah membawanya menuju saat ini.

Dengan mencintai takdir melalui amor fati, manusia tidak harus menghapus masa lalu atau hanya memilih kenangan yang menyenangkan. 

Sebaliknya, manusia diajak menerima kehidupan sebagai satu gambaran utuh. Yang terdiri atas kebahagiaan dan penderitaan.

BACA JUGA:Ragam Jenis, Tata Cara, dan Filosofi Dupa dalam Tradisi Tionghoa

BACA JUGA:5 Motif Batik Indonesia dan Filosofi yang Terkandung di Setiap Polanya

Maka, eternal recurrence bukan hanya pertanyaan tentang apakah kehidupan benar-benar berulang tanpa akhir. 

Gagasan tersebut menjadi pertanyaan yang lebih sederhana, tetapi berat: jika harus menjalani kehidupan yang sama sekali lagi, apakah kita sanggup mengatakan "ya." (*)

Kategori :