Filsafat Nietzsche, Mengenal Eternal Recurrence tentang Menerima Kehidupan

Senin 14-09-2026,12:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Jika dipahami secara harfiah, gagasan itu menjadi pertanyaan tentang alam semesta dan cara kerja waktu.

Apakah kehidupan yang dijalani saat ini benar-benar merupakan kehidupan yang sama dan telah dijalani berkali-kali sebelumnya. 

Dalam eternal recurrence, tidak ada perubahan atau kemungkinan kehidupan berkembang menjadi lebih baik maupun lebih buruk.

Gagasan tersebut berbeda dengan konsep reinkarnasi. Kehidupan tidak berubah menjadi bentuk lain. Melainkan semua hal kembali terjadi dengan cara yang sama.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Dosen Filsafat Hukum di Fakultas Hukum Universitas Proklamasi 45, Yogyakarta Antonius M. Laot Kian: Juan Tu Chong Lai

BACA JUGA:Filsafat Harapan dalam Perjuangan Panjang Wong Cilik Hidupkan Ratu Adil

Nietzsche mengajak manusia membayangkan kemungkinan tersebut melalui pengalaman sehari-hari. 

Ada banyak momen bahagia yang mungkin ingin diulang. Seperti cinta pertama, liburan yang menyenangkan, atau saat pertama kali menggendong anak yang baru lahir.

Namun, kehidupan juga berisi penderitaan. Kehilangan orang yang dicintai, kegagalan, sakit. Juga berbagai pengalaman menyakitkan lainnya. Semua itu harus ikut berulang tanpa akhir.

Karena itu, eternal recurrence menjadi pertanyaan yang sangat berat. Manusia tidak hanya diminta menerima kembali kebahagiaan. Tetapi juga seluruh penderitaan yang pernah dialami.

BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Dosen Ilmu Filsafat Wayang dan Etika UGM Iva Ariani Yu Shi Tui Yi

BACA JUGA:Marhaenisme dan Relevansi Pemikiran Bung Karno

Sejumlah pembahasan tentang Nietzsche bermunculan. Tapi tak satu pun bukti bahwa ia benar-benar menganggap eternal recurrence sebagai teori ilmiah tentang cara alam semesta bekerja. 

Gagasan tersebut lebih sering dipahami sebagai percobaan pemikiran yang harus dihadapi manusia.

Dalam catatan yang kemudian diterbitkan dalam buku The Will to Power, Nietzsche menggambarkan kehidupan seperti jam pasir. Terus dibalik dan kembali berjalan.

"Hidupmu, seperti sebuah jam pasir, akan selalu dibalik dan terus berjalan kembali hingga habis."

Kategori :