Penderitaan, kesalahan, kegagalan, dan kehilangan. Menjadi bagian dari perjalanan. Pada akhirnya membawa seseorang pada kehidupannya saat ini.
Namun, gagasan tersebut tentu tidak mudah diterima semua orang. Seseorang dapat mempertanyakan satu hal:
Potret Friedrich Nietzsche oleh Curt Stoeving, c. 1894.-Bildnis Friedrich Nietzsche-The Collector
BACA JUGA:7 Pemikiran Denny JA tentang Agama dan Spiritualitas di Era AI Layak Jadi Kurikulum PT
Apakah semua penderitaan dalam hidup benar-benar dapat dianggap sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kebahagiaan.
Bagi Nietzsche, eternal recurrence menjadi cara untuk menguji hubungan manusia dengan kehidupannya sendiri.
Gagasan tersebut membantu seseorang bertanya apakah ia mampu menjalani kembali seluruh kehidupannya jika diberi kesempatan.
Jika seseorang dapat menerima kehidupan dan menjalaninya kembali, termasuk seluruh kesedihan sebagai bagian dari kebahagiaan, maka orang tersebut telah menerima keberadaannya.
BACA JUGA:Filosofi Teras Jadi Revolusi Pemikiran Anak Muda Melalui Gagasan Stoik
BACA JUGA:Prabowo Kenang Rizal Ramli: Banyak Pemikiran Beliau yang Baik
Nietzsche menyebut penerimaan itu sebagai bentuk afirmasi kehidupan. Dalam bahasa Jerman, gagasan tersebut dikenal sebagai Bejahung atau mengatakan "ya".
Manusia tidak lagi melihat hidup sebagai kumpulan peristiwa yang terpisah. Tetapi sebagai sebuah proses yang dapat diterima secara utuh.
Pemikiran itu juga berkaitan dengan kritik Nietzsche terhadap agama Kristen. Ia memandang agama Kristen menolak kehidupan nyata. Karena terlalu berfokus pada kehidupan setelah kematian.
Bagi Nietzsche, yang terpenting adalah saat ketika seseorang dapat menerima apa yang telah membawanya ke titik kehidupan saat ini.
BACA JUGA:Mendalami Filosofi Hapkido, Disiplinkan Mental sebelum Lepaskan Jurus