Purbaya atau Suahasil? Gak Penting!

Senin 21-09-2026,13:54 WIB
Reporter : Sukarijanto
Editor : Yusuf Ridho

ADA sebuah anekdot yang selama ini menjadi ”pakem” di lantai bursa: ”Ketika presiden, menteri keuangan, atau gubernur bank sentral terkena flu, pasar ikut ‘demam’.” Kalimat tersebut tentu bukan teori ekonomi. 

Namun, ia menggambarkan satu kenyataan penting: pasar tidak hanya memperdagangkan angka-angka, tetapi juga memperdagangkan ekspektasi, persepsi, dan kredibilitas para figur yang berada di baliknya.

Presiden, menteri keuangan, dan gubernur bank sentral bukan sekadar pejabat negara. Ketiganya merupakan semacam ”trinitas kebijakan” yang menentukan arah fiskal, moneter, dan politik ekonomi secara keseluruhan. 

Karena itu, ketika satu posisi tersebut berubah, investor tidak sekadar bertanya: siapa penggantinya? Mereka bertanya lebih jauh: apakah aturan mainnya akan berubah? Apakah disiplin fiskal masih dijaga? Apakah bank sentral tetap independen? Apakah pemerintah masih legitimate?

BACA JUGA:Purbaya Sebut Anggaran Rp11 Triliun untuk Rekening Massal Belum Final

BACA JUGA:Purbaya Bantah Isu Jual Beli Jabatan Rp100 Miliar di Kemenkeu

Pergantian Purbaya Yudhi Sadewa oleh Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan baru-baru ini cukup mengejutkan karena Purbaya sendiri baru setahun menggantikan Sri Mulyani. Namun, pasar membaca itu bukan hanya pergantian personal, melainkan juga perubahan persepsi mengenai arah kebijakan fiskal pemerintahan Prabowo. 

Reuters bahkan mencatat bahwa pergantian Purbaya ke Suahasil dipandang sebagai upaya memulihkan kepercayaan investor dan mengembalikan penekanan pada disiplin anggaran. 

Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Mengapa pergantian satu manusia berpotensi menggerakkan nilai aset triliunan rupiah di lantai bursa dalam hitungan menit? Jawabannya sederhana, tetapi tajam: karena pasar tidak sedang membeli manusia, pasar membeli prediktabilitas.

Pasar Lebih Takut kepada Ketidakpastian

Investor sebenarnya tidak peduli siapa yang duduk di kursi menteri keuangan sepanjang kebijakannya dapat diprediksi. Seorang menteri baru yang kredibel bisa disambut positif jika memberikan sinyal bahwa pemerintah akan menjaga defisit, utang, inflasi, dan kredibilitas fiskal.

BACA JUGA:Perombakan Pejabat Pajak dan Bea Cukai Masih Abu-abu, Menkeu Suahasil Buka Suara

BACA JUGA:Daerah Minta Menkeu Suahasil Kembalikan Transfer Anggaran Daerah yang Dikepras

Masalah muncul ketika pergantian pejabat justru memantik policy uncertainty. Investor spontan melakukan apa yang secara rasional memang seharusnya dilakukan: wait and see

Injeksi modal ditunda. Ekspansi bisnis ditangguhkan. Pembelian obligasi dikurangi. Investor asing melakukan rebalancing. Bahkan, tanpa satu pun kebijakan berubah, persepsi akan perubahan kebijakan sudah cukup untuk menggerakkan pasar.

Kategori :