Gus dan Gus

Selasa 22-09-2026,09:43 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

INI bisa dikategorikan nir-adab di dunia pesantren. Ketika saya secara langsung menanyakan apa alasan KH A. Mustofa Bisri pernah menolak dipilih menjadi rais aam dalam muktamar NU di Jombang sepuluh tahun lalu.

Kiai sepuh yang menjadi sahabat Gus Dur sejak muda itu memang tak bersedia dipilih menjadi rais aam. Padahal, kalau saat itu bersedia, barangkali beliau sampai sekarang masih menjabat orang pertama dalam struktur kepemimpinan PBNU.

Saya menanyakan hal tersebut saat berkunjung di kediamannya di Leteh, Rembang, Jawa Tengah, akhir pekan kemarin. Bersama anak lanang dan anak wedok. Dari habis salat Asar sampai Isya. Sempat merasakan sambal enak yang selalu ngangeni setiap ke ponpes ini.

Gus Mus –demikian KH A Mustofa Bisri biasa dipanggil– termasuk tokoh penggerak NU Kembali ke Khittah 1926 di muktamar Situbondo. Bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan dr Fahmi D. Saifuddin. Tiga orang itulah yang menjadi aktor perubahan NU pada tahun 1980-an.

BACA JUGA:Gus Mus Tolak Rencana Pemberian Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto

BACA JUGA:Gus Mus Tak Setuju Soeharto Diberi Gelar Pahlawan, Warga NU yang Dukung Disebut Tak Ngerti Sejarah

Sampean pasti tahu siapa Gus Dur. Mantan presiden RI itu adalah cucu pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. Sedangkan dokter Fahmi adalah putra KH Saifuddin Zuhri, mantan menteri agama RI. Sedangkan Gus Mus adalah kiai yang juga dikenal sebagai seniman. 

”Otak perubahan NU di muktamar Situbondo itu ya Gus Dur dan dokter Fahmi. Kata dokter Fahmi, Gus Dur itu pemimpin. Yang memutuskan dan menentukan arah. Sedang ia adalah manajernya. Yang mengatur dan mencari cara mewujudkan tujuan,” ujar Gus Mus.

Saya beruntung dapat banyak cerita unik dan asyik. Tentang dinamika kepemimpinan di NU. Setelah lama sekali tidak reriungan dengan Gus Mus. Sama sekali tidak menyinggung soal muktamar NU terakhir di Jombang. Yang dinamikanya masih hangat hingga kini.

Gus Mus pernah menjadi rais aam PBNU. Setelah rais aam saat itu, KH Sahal Mahfudz, meninggal dunia. Sebelum mandat dari muktamar di Makassar berakhir. Otomatis, ketika rais aam wafat, digantikan wakilnya. Ibaratnya, Gus Mus menjadi rais aam antarwaktu.

BACA JUGA:Gus Mus Mengaku Ingin Walk Out Jika Ketum PBNU Bahas Pilpres, Ternyata Tidak

BACA JUGA:Menjaga Marwah NU ala Gus Dur: Keberanian Moral di Atas Segala Kepentingan

Nah, kenapa Gus Mus menolak menjadi rais aam? Ia tak langsung menjawab. Gus Mus hanya cerita, ada dua pemimpin yang masuk neraka. Pertama, mereka yang tahu kalau tak ada yang lebih baik darinya tapi menolak dipilih. Kedua, mereka yang tahu ada yang lebih baik darinya, tapi mau dipilih. 

”Saya yang kedua,” katanya sambil tersenyum. Selain Gus Mus, ada banyak kiai yang menolak ketika dipilih menjadi rais aam. Di antaranya, KH As’ad Syamsul Arifin Situbondo dan KH Mahrus Ali Lirboyo. Bahkan, untuk menolak jabatan itu, keduanya ”mencatut” Malaikat Jibril dan Izrail.

Peristiwa itu terjadi saat munas alim ulama di Kaliurang, Yogyakarta. ”Keduanya lantas menunjuk KH Ali Maksum Krapyak. Sebagai santrinya, saya yang diutus menyampaikan keputusan itu kepada Kiai Ali. Saya dimarahi habis-habisan oleh Kiai Ali karenanya,” tambah Gus Mus.

Kategori :