NEW YORK pada pekan terakhir September memperlihatkan bagaimana energi kembali menjadi jantung geopolitik dunia. Perang dan ketegangan antarnegara, gangguan jalur perdagangan, perubahan kebijakan tarif, persaingan teknologi, perubahan iklim, hingga perkembangan kecerdasan artifisial hadir dalam percakapan yang sama ketika para kepala negara dan pemerintahan, menteri, diplomat, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat sipil berkumpul dalam High-Level Week Sidang Ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA 81).
Dalam pidato pembukaan general debate pada 22 September, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut dunia sedang menghadapi empat tests of power: perdamaian dan keamanan, ketimpangan, perubahan iklim, serta kecerdasan artifisial. ”The fault lines in our world are widening,” katanya. Pernyataan itu menggambarkan situasi ketika persoalan ekonomi, teknologi, keamanan, dan iklim makin sulit dipisahkan satu sama lain.
Energi adalah salah satu titik temu. Beberapa tahun terakhir memberikan banyak contoh bagaimana perang dapat mengubah arus pasokan, gangguan pada jalur perdagangan dapat memengaruhi harga, dan keputusan politik sebuah negara dapat dengan cepat merambat ke perekonomian negara lain.
BACA JUGA:Desa Energi Berdikari Keliki Wujudkan Ketahanan Pangan dan Pengelolaan Sampah Berbasis Energi Bersih
BACA JUGA:Pertamina dan LanzaTech Teken MoU Pengembangan Energi Bersih Berbasis Teknologi di Houston
Menjelang UNGA 81, Guterres bahkan secara khusus menyoroti keunggulan energi terbarukan dari perspektif keamanan energi: matahari dan angin tidak menghadapi risiko jalur pasokan yang sama dengan bahan bakar yang harus melewati Selat Hormuz atau Laut Hitam.
Pesan tersebut menarik karena menempatkan energi terbarukan dalam konteks yang lebih luas. Selama bertahun-tahun, transisi energi terutama dibicarakan dalam konteks perubahan iklim dan penurunan emisi.
Kedua agenda itu tetap penting. Namun, perang, volatilitas harga energi, persaingan teknologi, dan perubahan kebijakan perdagangan membuat pertanyaan tentang asal energi dan keamanan pasokannya kembali muncul.
Perubahan cara pandang itu juga terasa dalam Global Solar and Battery Storage Industry Associations Gathering 2026 dan Third Roundtable on Powering the Renewable Energy Future di markas besar PBB. Percakapan tidak berhenti pada berapa banyak panel surya yang dapat dipasang.
BACA JUGA:Dukung Kemandirian dan Transisi Energi Bersih, Pertamina Sepakati 10 Perjanjian Jual Beli Gas
BACA JUGA:Edukasi Energi Bersih, PGN Jadikan SMPN 34 Depok Sekolah Energi Berdikari
Pertanyaannya bergerak lebih jauh: apakah jaringan mampu menerima listrik yang dihasilkan, apakah listrik tersedia saat dibutuhkan, berapa biaya modalnya, siapa yang akan membeli listrik tersebut, dan bagaimana energi bersih dapat mendukung kegiatan ekonomi.
Pengalaman Brasil menarik untuk diperhatikan. Pertumbuhan energi surya dan angin yang cepat mulai berhadapan dengan curtailment, ketika sebagian energi yang sebenarnya dapat diproduksi tidak dapat dimanfaatkan karena keterbatasan jaringan dan fleksibilitas sistem.
Itu pelajaran penting bagi negara yang sedang merencanakan penambahan energi terbarukan dalam skala besar. Kapasitas terpasang memberikan ukuran yang mudah dilihat, tetapi bagi perekonomian yang lebih penting adalah berapa banyak listrik yang akhirnya dapat digunakan.
Battery energy storage system (BESS) kemudian menjadi bagian penting dalam pembahasan. Salah satu analogi dalam diskusi di New York cukup membantu menjelaskannya: jaringan transmisi memindahkan energi dari satu tempat ke tempat lain, sedangkan baterai memungkinkan energi dipindahkan dari satu waktu ke waktu lain. Listrik dari energi matahari yang melimpah pada siang hari dapat disimpan untuk digunakan saat produksi menurun atau kebutuhan meningkat.