Energi Bersih, Industri, dan Kemandirian Indonesia

Senin 28-09-2026,16:13 WIB
Oleh: Didik Prasetiyono*

Teknologi penyimpanan energi pun terus berkembang. Litium-ion masih dominan, tetapi kebutuhan sistem tidak selalu sama. Long-duration energy storage, penyimpanan termal, pumped hydro, dan teknologi lain berkembang untuk fungsi dan durasi yang berbeda-beda. 

Artinya, pertumbuhan energi terbarukan meningkatkan kebutuhan investasi yang lebih luas pada jaringan, penyimpanan energi, fleksibilitas sistem, dan pengelolaan permintaan.

Target Besar Membutuhkan Peta Jalan

Indonesia sedang berada pada fase yang menentukan. Kebutuhan listrik terus meningkat seiring dengan pertumbuhan industri dan munculnya pusat-pusat ekonomi baru. Pemerintah pada saat yang sama memiliki target besar untuk meningkatkan kapasitas energi terbarukan, termasuk pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan penyimpanan energi dalam skala yang jauh lebih besar.

Target besar selalu menarik perhatian. Pekerjaan yang lebih rumit justru muncul setelah target ditetapkan. Berapa kapasitas yang dibangun setiap tahun? Di mana lokasinya? Bagaimana status dan ketersediaan lahannya? Kapan transmisi dan gardu induk akan tersedia? Berapa kapasitas BESS yang dibutuhkan? Siapa yang akan menggunakan listriknya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang menentukan apakah target dapat menjadi proyek.

Indonesia mempunyai tantangan geografis yang khas. Sumber energi terbarukan tidak selalu berada dekat dengan pusat permintaan. Sebuah wilayah dapat mempunyai potensi energi surya yang besar, tetapi jaringan di sekitarnya belum tentu mampu menerima tambahan listrik dalam jumlah besar. Di tempat lain, kawasan industri berkembang pesat dan membutuhkan pasokan listrik yang besar, stabil, dan tersedia sepanjang waktu.

Dalam struktur kelistrikan Indonesia, PLN memegang peran strategis. Pembangkit baru pada akhirnya harus terhubung dengan sistem, listrik harus dapat dikirim ke pusat permintaan, dan keandalan harus tetap terjaga saat komposisi pembangkit berubah. RUPTL PLN 2025–2034 telah memasukkan pengembangan energi terbarukan, penyimpanan energi, transmisi, dan gardu induk dalam rencana pengembangan sistem. 

Persoalannya kemudian menjadi soal sinkronisasi: kapan pembangkit selesai, kapan jaringan tersedia, dan kapan permintaan muncul.

PLN tentu tidak bekerja sendiri. Pengembang swasta akan mengambil bagian besar dalam investasi pembangkit, sementara pertumbuhan permintaan sangat dipengaruhi oleh keputusan investasi di sektor industri. 

Pemerintah pusat dan daerah memegang kewenangan atas banyak aspek perizinan dan ruang. Pengelola kawasan industri mengetahui rencana ekspansi tenant dan calon investor. Lembaga pembiayaan mempunyai penilaian sendiri terhadap risiko proyek. Para pihak tersebut perlu bertemu lebih awal.

Indonesia, karena itu, membutuhkan peta jalan energi yang memiliki dimensi spasial. Peta potensi energi perlu dibaca bersama peta jaringan transmisi, gardu induk, ketersediaan lahan, kebutuhan penyimpanan energi, serta lokasi pertumbuhan permintaan. 

Pengalaman negara lain dengan curtailment menunjukkan betapa mahalnya konsekuensinya ketika pembangunan pembangkit dan kesiapan jaringan berjalan dengan kecepatan yang berbeda.

Ketika Energi Menjadi Pertimbangan Investasi

Perubahan tersebut sudah terasa dalam pengembangan kawasan industri. Selama bertahun-tahun, percakapan dengan calon investor lazim dimulai dari tanah: berapa harganya, bagaimana statusnya, dan kapan siap digunakan. Setelah itu, pembicaraan bergerak ke jalan, pelabuhan, air, pengolahan limbah, tenaga kerja, dan perizinan.

Sekarang pertanyaan mengenai listrik datang makin awal dan makin terperinci. Apakah kapasitasnya tersedia? Seberapa andal pasokannya? Berapa tarifnya? Apakah kapasitas dapat ditambah ketika pabrik berekspansi? Dan, makin sering muncul satu pertanyaan lagi: apakah energi bersihnya dapat dibuktikan?

Pertanyaan terakhir berkaitan langsung dengan perubahan pada rantai pasok global. Banyak perusahaan memiliki target dekarbonisasi sendiri dan harus mempertanggungjawabkan emisi dari kegiatan produksi mereka. 

Kategori :