Ijen harus membangun keunggulan yang lebih sulit ditiru: integrasi alam, geologi, pendidikan, budaya, konservasi, masyarakat, dan ekonomi lokal. Blue fire tetap harus menjadi ikon. Namun, ikon tidak boleh menjadi seluruh isi cerita.
Justru karena api biru Ijen begitu terkenal, kita memiliki modal awal yang sangat kuat untuk memperkenalkan cerita yang lebih besar. Api biru adalah pintu masuk, Ijen adalah keseluruhan rumahnya.
Maka, ketika wisatawan dapat menyaksikan fenomena api biru di tempat lain, Ijen tidak akan kehilangan alasan untuk dikunjungi. Sebab, orang datang bukan hanya untuk api biru. Mereka datang untuk mengalami Ijen.
Mereka datang untuk belajar tentang bumi, menyaksikan keindahan alam, mengenal budaya, memahami kehidupan masyarakat, menikmati produk lokal, dan merasakan sebuah perjalanan yang tidak dapat dipindahkan begitu saja ke gunung lain.
Karena itu, masa depan Kawah Ijen seharusnya tidak dibangun dengan pertanyaan, ”apakah kita masih memiliki api biru yang paling unik?”
Kini pertanyaan yang lebih urgen menjadi: ”Apa yang membuat Ijen tetap menjadi Ijen ketika dunia mulai memiliki api birunya sendiri?” Jawabannya tidak dengan meninggalkan blue fire. Tetapi, membuat Ijen jauh lebih besar daripada blue fire. (*)
*) M.R. Warang Agung adalah kepala Madrasah Aliyah Tahfidzul Qur’an Al Uswah, Banyuwangi.--