AI: Teman Belajar atau Jalan Pintas?

Kamis 01-10-2026,13:00 WIB
Oleh: Aisha Wahbi Baisa

BAYANGKAN seorang mahasiswa mendapat tugas esai. Ia menyalakan laptop, bukan membuka buku.

Bukan pula mencari jurnal. Ia memulai sebuah percakapan dengan mengetik beberapa kalimat perintah. Lalu menekan tombol enter.

Beberapa detik lewat, satu par satu paragraf mulai muncul di layar. Ada pembuka hingga kesimpulan.

Tinggal salin, rapikan sedikit, lalu kumpulkan. Pemandangan semacam itu bukan lagi sesuatu yang asing di lingkungan mahasiswa.

BACA JUGA:Menata Kampus PTKI di Era Kecerdasan Buatan

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Punya Tubuh: Menuju Jadi Kawan Manusia

Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlahan menjadi bagian dari rutinitas belajar bagi mereka.

Ia menjadi tempat bertanya ketika materi kuliah terasa sulit, teman berdiskusi ketika kehabisan ide, hingga “penolong” ketika deadline sudah semakin dekat.

Tidak dapat dimungkiri, AI memang membuat belajar terasa lebih mudah. Namun, ada hal yang perlu kita pertanyakan dari kemudahan tersebut.

Ada perbedaan antara menggunakan AI untuk membantu berpikir dan menggunakan AI agar tidak perlu berpikir.

BACA JUGA:Kecerdasan Buatan Dituding Bikin Manusia Makin Tidak Cerdas: Pekerjaan Kian Ringan, Otak Ikut Kosong

BACA JUGA:Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Mengisi Ruang Sepi Manusia: Indonesia Lebih Terbuka Pada ’’Pacar AI’’

Ketika mahasiswa mempelajari suatu materi lalu menggunakan AI untuk mengevaluasi pemahamannya terhadap materi tersebut, maka penggunaan AI memberikan manfaat.

Namun, apa yang akan dicapai jika seluruh proses mulai dari ide, argumen, dan kesimpulan diserahkan sepenuhnya kepada AI?

Tugasnya mungkin selesai. Tetapi apakah proses belajarnya juga terjadi? Pertanyaan itu menjadi sangat penting.

Kategori :