Informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu memiliki dasar yang kuat. Oleh karena itu, kita harus tetap memeriksa fakta dari berbagai sumber informasi.
Di situlah kemampuan manusia justru menjadi semakin krusial. Semakin mudah teknologi memberikan jawaban, semakin besar pula kewajiban kita untuk mempertanyakan jawaban tersebut.
Pertanyaan sebenarnya bukanlah apakah mahasiswa boleh menggunakan AI. Mengabaikan kemajuan teknologi juga bukan jawabannya.
BACA JUGA:Bahasa Ibu di Era Kecerdasan Buatan
Yang jauh lebih penting adalah mengembangkan kebiasaan menggunakan AI secara bijak.
Manfaatkan AI sebagai alat bantu belajar. Bukan sebagai seluruh sumber pemahaman. Gunakan AI untuk memperkuat pendapat. Bukan untuk menggantikannya.
Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk menyelesaikan tugas. Tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjelaskan dasar pemikiran di balik karyanya dan memastikan validitas sumber informasi yang digunakan.
Jadi, AI tidak dapat disebut sebagai teman belajar ataupun jalan pintas. Peran tersebut ditentukan oleh penggunanya.
BACA JUGA:Paus Fransiskus Buka Suara di KTT G7: Gali Risiko dan Keuntungan Kecerdasan Buatan (AI)
BACA JUGA:Maskapai Lirik Kecerdasan Buatan, Pilot Lebih Butuh Asisten Kecerdasan
AI bisa menjadi teman yang membantu kita menemukan jalan ketika tersesat. Namun, jika setiap perjalanan selalu kita serahkan kepadanya, lama-kelamaan kita tidak lagi mengenali jalan yang sedang kita tempuh.
Ketika sebuah alat semakin cerdas memberikan jawaban, tantangan mahasiswa justru lebih lebih sulit untuk tetap mau berpikir.
Pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban. Melainkan siapa yang benar-benar memahami apa yang sedang ia pelajari. (*)
*) Mahasiswa Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga.