SEBUAH adegan politik yang barangkali beberapa tahun lalu sulit dibayangkan akhirnya benar-benar terjadi. Jumat, 2 Oktober 2026, Rocky Gerung masuk istana. Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Nama Rocky Gerung tercantum di dalamnya.
Pratikno menjadi ketua, Hatta Rajasa wakil ketua, Muhammad Qodari sekretaris, sementara Rocky menjadi salah seorang anggota bersama sejumlah tokoh dari latar belakang politik, agama, bisnis, militer, hukum, dan masyarakat sipil.
Bagi sebagian orang, adegan itu bisa mengejutkan. Namun, bagi sebagian lainnya, itu mungkin justru terasa sebagai formalitas yang pada akhirnya harus diterima sebagai realitas politik.
Selama satu dekade, Rocky Gerung membangun identitas publiknya sebagai salah seorang pengkritik paling keras pemerintahan Joko Widodo. Ia berada di luar pagar kekuasaan, berbicara dari ruang publik, televisi, panggung diskusi, dan media sosial.
BACA JUGA:Pratikno dan Rocky Gerung Satu Meja di Wantimpres Prabowo, Apa yang Berubah di Istana?
BACA JUGA:Soekarno Talk-In Magetan: Rocky Gerung Ajak Gen Z Baca Ulang Marhaenisme
Ia menjadi simbol bagi sebagian kelompok yang melihat dirinya sebagai representasi perlawanan intelektual terhadap kekuasaan.
Rocky membangun sebuah identitas yang sangat kuat, yaitu ”presiden akal sehat”. Predikat itu menjadi bagian dari gaya komunikasi dan persona publiknya. Namun, setelah pelantikan kemarin, gelar itu akan lenyap karena sang presiden akal sehat telah duduk di istana.
Tentu Rocky dapat memberikan seribu satu penjelasan filosofis mengenai perbedaan antara berada di dalam kekuasaan dan menjadi bagian dari kekuasaan.
Ia bisa menjelaskan bahwa jabatan tidak identik dengan penaklukan, bahwa kritik dapat dilakukan dari dalam, bahwa menjadi penasihat presiden tidak berarti menjadi pengikut presiden.
Memang, secara normatif, fungsi Wantimpres adalah memberikan pertimbangan kepada presiden. Rocky sendiri mengatakan setelah pelantikan bahwa Wantimpres memiliki kedudukan etis, bukan teknis, termasuk melihat ekses-ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan agar arah kebijakan sesuai dengan visi presiden.
Namun, politik tidak hanya hidup dari penjelasan normatif. Politik adalah simbol. Dan, simbol yang muncul adalah orang yang selama bertahun-tahun berada di luar istana kini menjadi bagian dari lembaga resmi di dalam istana.
Rocky Gerung menjadi potongan puzzle terakhir dalam proyek politik Prabowo Subianto. Bukan karena Rocky adalah orang terakhir yang bergabung, melainkan karena secara simbolis ia mewakili salah satu kelompok yang paling sulit dibayangkan akan masuk ke lingkaran kekuasaan.