Prabowo berulang kali mengutip ungkapan, ”seribu teman kurang, satu musuh terlalu banyak”. Kalimat itu pada awalnya terdengar seperti sebuah prinsip politik yang sederhana.
BACA JUGA:Revisi RUU HAM Tuai Polemik, Rocky Gerung dan Tokoh HAM Nasional Terlibat Penyusunan
BACA JUGA:Purbaya: Kalau Ekonomi Bisa Tumbuh 6 Persen, Rocky Gerung Harus Minta Maaf
Namun, perjalanan politik Prabowo memperlihatkan bagaimana prinsip tersebut bekerja dalam praktik, pintu kekuasaan dibuka selebar-lebarnya kepada berbagai kelompok yang sebelumnya berada di seberang.
Orang-orang yang dahulu berada dalam orbit oposisi satu demi satu akhirnya menemukan tempat di dalam pemerintahan atau lingkar kekuasaan. Rocky tidak datang sendirian dalam cerita ini.
Syahganda Nainggolan, yang juga dikenal sebagai bagian dari spektrum kritik terhadap pemerintahan, juga masuk ke istana, menjadi corong Prabowo kepada media. Sebelumnya, nama-nama seperti Jumhur Hidayat dan Ferry Juliantono juga masuk ke istana.
Maka, pertanyaannya bukan lagi ”siapa oposisi Prabowo?”
BACA JUGA:Rocky Gerung: Publik Meledak karena Akumulasi Masalah Satu Dekade Terakhir
BACA JUGA:Hasto dan Tom Lembong Dapat Ampunan, Rocky Gerung: Ada Gempa Politik Kecil di Solo
Masih adakah kelompok oposisi yang belum menemukan pintunya? Inilah paradoks politik Prabowo. Ia tampaknya tidak terlalu tertarik membangun kekuasaan dengan cara memelihara tembok antara kawan dan lawan. Ia justru bekerja dengan cara mengurangi –atau menghabisi– orang yang berada di luar pagar.
Dan, Rocky adalah simbol paling ikonik dari proses itu. Selama era Jokowi, Rocky menjadi salah satu suara yang konsisten berada di luar istana. Kini, pada era Prabowo, suara itu justru memperoleh kursi di dalamnya.
Ironinya menjadi lengkap, seseorang yang selama bertahun-tahun memosisikan diri sebagai pengawas kekuasaan akhirnya memperoleh jabatan formal untuk memberikan pertimbangan kepada kekuasaan.
Apakah dengan masuk istana Rocky berhenti menjadi pengkritik? Kita tidak tahu. Justru menarik untuk melihat apakah ”akal sehat” yang selama ini ia klaim akan tetap bekerja ketika ia berkelindan dengan objek kritiknya.
Ujian terbesar seorang pengkritik bukanlah ketika ia berada di luar kekuasaan. Ujian sesungguhnya adalah ketika pintu kekuasaan dibuka untuknya. Dan, hari ini pintu itu sudah terbuka. Rocky telah masuk.
Puzzle Prabowo pun kian lengkap. Kalau masih ada satu-dua keping yang tercecer di luar, tampaknya istana masih cukup luas untuk menampungnya. Sebab, jika seribu teman masih dianggap kurang, satu musuh pun, dalam logika politik Prabowo, barangkali lebih baik dijadikan teman.
Rocky adalah potongan puzzle terakhir. Keping terakhir terpasang bukan ketika seorang oposisi dikalahkan, melainkan ketika ia tidak perlu lagi dikalahkan karena akhirnya ikut duduk di ruang yang sama. Dan, ruang itu bernama istana. (*)