Pertarungan Makna Kolonialisme: Catatan dari Den Haag

Sabtu 03-10-2026,22:59 WIB
Oleh: Aryo Seno Bagaskoro*

SEPTEMBER berakhir, memasuki Oktober. Namun, ini bukan Earth, Wind, and Fire. September tidak datang dengan naif dan penuh keceriaan, tidak pula pergi menjanjikan dansa-dansa. Orang mungkin akan lebih mengingat September sebagai bulan penuh gejolak. 

Sebut saja, misalnya, Amerika Serikat mengingat peristiwa 9/11, Jakarta merenungkan G-30-S dan Jakarta Method, Surabaya mengingat perobekan bendera merah putih biru di Hotel Orange. 

Apa pun perspektif yang Anda gunakan untuk memahami berbagai peristiwa masa lalu itu tidak menghilangkan fakta bahwa peristiwa tersebut terjadi dan membuat semacam perbedaan akan sesuatu. Dari sebelum dan sesudah. Dari dulu hingga sekarang. Sebab, peristiwa-peristiwa ikonik di September memang betul-betul besar. Menegangkan. Mencekam. Mengubah. 

Apabila suatu masyarakat diibaratkan sebagai suatu individu, peristiwa besar selalu menyisakan berbagai sisi yang menyakitkan maupu melegakan. Entah itu trauma, tabu, rasa heroisme, atau kelegaan melewati krisis dalam taraf tertentu.

Siapa Menentukan Baik dan Buruk

Masih di bulan September, 7.394 mil dari Surabaya, di Den Haag. Sebuah teater yang dimainkan oleh aktor Bo Tarenskeen mengangkat judul Soekarno. Selama dua setengah jam, Bo bermonolog, berbagi panggung dengan aktris Ester Scheldwacht memerankan Soekarno muda dan Soekarno tua. 

Dengan pemahaman bahasa Belanda yang masih sangat terbatas, saya menyaksikan secara langsung penampilan mereka dalam membandingkan sosok ”muda” dan ”tua” sang Proklamator dengan tone yang sangat provokatif. Tidak banyak orang Indonesia di ruangan itu. Hanya saya dan seorang kawan. Begitu banyak orang Belanda yang hadir, tampak menikmati pertunjukan itu.

Di tengah darah yang mendidih di kursi Het Nationale Theater, ingatan saya memberondong kepala dengan tulisan Ki Hadjar Dewantara, Als Ik Een Nederlander Was, pada tahun 1913 yang mengkritik keras rencana perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis di tengah kesadaran penuh sedang menjajah Indonesia. 

Menggebu-gebu memori saya mendesakkan tulisan Max Havelaar mahakarya Multatuli yang katanya begitu dirayakan oleh Belanda sendiri sebagai otokritik tajam atas praktik penjajahan di Lebak, Banten, di tengah kemunafikan golden age. 

Berapi-api pikiran saya menyerukan pleidoi Indonesia Menggugat yang dilantangkan oleh Soekarno sendiri ketika dibawa ke hadapan pengadilan kolonial dalam membongkar logika kolonialisme dan imperialisme Belanda. 

Sekarang, apa hak mereka mengintepretasikan baik atau buruk kronik peristiwa dan pemimpin suatu negeri yang dengan susah payah berhasil merdeka dari pengisapan bertahun-tahun oleh mereka demi menimbun kemakmuran bagi peri kehidupan mereka sendiri? 

”Berdagang Bawa Meriam”

Seorang akademikus antikolonial India Vijay Prashad, dalam sebuah public lecture di Jakarta, mengingatkan bahwa kolonialisme membawa pergi dua hal berharga: ingatan (memory) dan sumber daya (resource). 

Karena itulah, dalam soal yang kedua, wacana rekonstruksi mulai dipertimbangkan oleh berbagai akademikus progresif sebagai pendekatan alternatif dari cengkeraman lama rezim development industrial complex. 

Berbeda dari konteks rekonstruksi yang bernapas keadilan atas sejarah, paradigma lama itu cenderung menitikberatkan pada suntikan modal asing versi International Monetary Fund (IMF) atau World Bank yang pada akhirnya justru memberatkan fiskal ”negara mitra” dengan seabrek syarat penyesuaian struktur (structural adjustment). 

Kategori :