Pertarungan Makna Kolonialisme: Catatan dari Den Haag

Sabtu 03-10-2026,22:59 WIB
Oleh: Aryo Seno Bagaskoro*

Hantu itu kembali gentayangan. Adalah suatu kebodohan jika kita memilih menyerah dalam arena pertarungan itu.

Kepala Tegak di Arena

Perasaan-perasaan yang timbul di tengah publik akibat berbagai peristiwa besar selalu menyediakan lahan subur bagi upaya pembingkaian dan pengintepretasian, untuk memisahkan siapa yang menang dan siapa yang kalah dalam garis lintang sejarah. Dari garis pemisahan itu, keputusan politik diambil, struktur dan kultur masyarakat, lembaga, maupun negara lalu dituntut untuk mengadaptasi bentuk normal baru. 

Namun, keputusan menarik garis dan menentukan batas demarkasi tidak dilahirkan dari perasaan, baik kolektif maupun individual. Keputusan itu dikontestasikan melalui formulasi pikiran. 

Perasaan memang mengakumulasi momentum, tetapi pemikiranlah yang kemudian dipertarungkan untuk mencapai makna bersama. Pertanyaannya, siapa yang berhak menjadi wasit? Sebab, sejarah tidak pernah berwarna hitam dan putih.

Politik dan geopolitik memang selalu adalah sebuah arena pertarungan makna. Dalam kamus kolonialisme, kursnya adalah sumber daya dan ingatan. Siapa pun yang mampu mendekonstruksi ingatan publik, terutama setelah peristiwa besar, dan mempertahankan kekuasaan atas sumber daya, merekalah pemenangnya. 

Di tengah dunia yang hari ini terus berkembang, selalu penuh gejolak dan kian tanpa batas, adalah suatu keniscayaan bagi bangsa Indonesia untuk menyadari adanya lanskap dan panggilan baru di tengah arena dunia yang tidak begitu banyak berubah. Cukup penting untuk sadar bahwa pertarungan itu tidak pernah tuntas. Kita hanya harus punya kepala tegak. (*)

*) Aryo Seno Bagaskoro adalah politikus muda PDI Perjuangan.

 

Kategori :