LCD Dunia

Minggu 04-10-2026,05:33 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

HANDPHONE istri saya rusak. Awalnya hanya baterai. Kami pikir sederhana. Ganti baterai, lalu selesai. Ternyata ketika diperbaiki, teknisinya salah menekan bagian tertentu. LCD yang tadinya baik malah ikut bermasalah.

Istri saya sedih. Handphone itu memang biasa kami pakai berdua. Ada foto, percakapan, dan banyak hal kecil di dalamnya. Barang seperti itu kadang baru terasa dekat ketika sudah rusak.

Kami datang membawa satu persoalan. Pulang membawa persoalan baru. Anehnya, kejadian kecil itu justru memberi saya inspirasi.

Kadang masalah besar bukan muncul karena kita tidak melakukan apa-apa. Masalah justru lahir ketika kita mencoba memperbaiki sesuatu, lalu salah menekan bagian yang lain.

Tiga hari terakhir dunia terasa seperti handphone itu. Lihat Flydubai FZ1073 pada 30 September.

Pesawat dari Dubai menuju Tel Aviv mengalami kejadian yang sulit dibayangkan. Kopilot menyerang kapten di dalam kokpit. Otoritas Uni Emirat Arab kemudian menyatakan serangan dilakukan menggunakan crash axe. Pesawat sempat kehilangan lebih dari 16.000 kaki ketinggian dalam sekitar 30 detik. Lebih dari 170 orang berada di dalamnya. Kapten yang terluka berhasil membuka akses kokpit. Penumpang dan awak membantu mengendalikan keadaan sampai dua pilot yang sedang tidak bertugas mengambil alih dan pesawat mendarat di Tabuk, Arab Saudi. Penyelidikan lintas negara masih berjalan.

Dalam dunia keamanan, ada istilah insider threat. Ancaman tidak selalu datang dari orang yang berusaha masuk. Kadang ia sudah berada di dalam dan punya akses.

Tas bisa diperiksa. Sepatu bisa diperiksa. Botol air bisa dibatasi. Ternyata niat manusia jauh lebih sulit melewati mesin pemindai.

Donald Trump bahkan memperingatkan Iran akan mendapat respons keras jika kemudian terbukti berada di belakang serangan tersebut. Kata yang paling penting sebenarnya adalah jika. Penyelidikan saat itu belum menemukan bukti keterlibatan Iran dan otoritas Israel juga menyatakan belum ada bukti yang mengarah ke sana.

Di sinilah kehati-hatian menjadi penting. Dalam perang, salah membaca ancaman bisa sama berbahayanya dengan gagal membaca ancaman.

Semua Sibuk Menyelamatkan Handphone Sendiri

Dari udara kita turun ke laut. Selat Hormuz kembali membuat dunia waspada. Pada 3 Oktober sebuah tanker minyak mentah dilaporkan terkena proyektil yang belum diketahui asalnya sekitar 4 mil laut di sebelah timur Oman. Seluruh awak dilaporkan selamat.

Hormuz bukan sekadar selat. Dalam geopolitik, ia disebut chokepoint. Jalurnya sempit, tetapi kepentingan yang melintas di sana sangat besar. Seperti leher botol. Botolnya boleh besar. Lehernya tetap kecil.

Yang membuat situasinya makin menarik, beberapa hari sebelumnya Donald Trump dan Xi Jinping baru bertemu di Washington.

Dalam delapan kesepahaman yang diumumkan kedua negara, Trump dan Xi sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dan tidak boleh ada negara atau institusi yang mengenakan pungutan terhadap jalur perairan internasional. Xi juga berbicara mengenai hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok yang memiliki stabilitas strategis, dengan persaingan yang tetap terkendali. Pernyataan dari Washington dan Beijing sama-sama mencatat kesepahaman tersebut.

Kategori :