Ketika Anak Muda Mencari Makna lewat Tarot Digital

Jumat 09-10-2026,21:16 WIB
Oleh: Dimas Ramadhiansyah & Nisa Kurnia I

Algoritma pun tidak sekadar mendistribusikan tarot, tetapi turut membangun pengalaman spiritual itu sendiri. Ketika seseorang berhenti pada video tarot, memberikan like, menyimpan, membagikan, atau membaca komentar, sistem membaca tindakan tersebut sebagai tanda ketertarikan dan kemudian menghadirkan lebih banyak konten serupa. 

Lambat laun, tarot tidak lagi terasa sebagai konten yang dicari, tetapi juga pengalaman yang ”menemukan” penggunanya.

Algoritma sebagai Mediator Spiritual

Proses tersebut dapat dibaca melalui konsep algorithmic serendipity yang dibahas Boroka Bo dkk dalam Why Are We Awake? Algorithmic Serendipity and the Sociology of Sleeplessness, yakni sebuah pengalaman ketika pengguna merasa menemukan sesuatu secara kebetulan, padahal kemunculan tersebut merupakan hasil prediksi algoritmik. 

Karena itu, video tarot yang muncul di for you page (FYP) dapat dimaknai sebagai ”panggilan semesta” meskipun secara teknis merupakan konsekuensi dari sistem rekomendasi.

Namun, pengalaman tersebut tidak berhenti pada hubungan antara pengguna dan algoritma. Pengguna juga mengembangkan berbagai perilaku yang membuat tarot menjadi praktik sosial di dalam platform. 

Mereka tidak hanya menonton video secara pasif, tetapi juga mengikuti akun tarot tertentu, menunggu unggahan baru, memilih tumpukan kartu dalam konten pick a card, menyimpan pembacaan yang dianggap relevan, membagikannya kepada teman, serta kembali mencari pembacaan lain ketika menghadapi persoalan tertentu.

Perilaku tersebut menjadi makin menarik ketika pengguna mulai membangun keterikatan terhadap kreator tarot. Kreator yang dianggap mampu memberikan pembacaan yang ”relate” dapat menjadi rujukan yang terus diikuti. Pengguna kemudian tidak hanya mengonsumsi satu video, tetapi membangun kebiasaan untuk kembali kepada kreator atau jenis konten tertentu. 

Dalam konteks ini, tarot dapat membentuk pola konsumsi yang menyerupai perilaku penggemar: mengikuti kreator, mengantisipasi konten baru, membagikan konten kepada orang lain, dan membangun keterikatan dengan komunitas yang memiliki ketertarikan serupa.

Kolom komentar juga menjadi ruang penting dalam perilaku tersebut. Pengguna dapat menceritakan pengalaman pribadi, mengonfirmasi bahwa sebuah pembacaan sesuai dengan kondisi mereka, atau menemukan pengguna lain yang mengalami hal serupa. 

Ketika seseorang menulis bahwa kartu yang muncul ”persis dengan keadaan yang sedang dialami”, respons pengguna lain dapat memberikan validasi dan memperkuat interpretasi tersebut. Pengalaman spiritual yang semula bersifat personal kemudian dinegosiasikan secara kolektif.

Di sini terjadi proses participatory meaning-making. Makna tarot tidak hanya ditentukan oleh kreator, tetapi dibentuk melalui interaksi antara kreator, pengguna, dan komunitas. 

Seseorang yang sedang mengalami persoalan hubungan, misalnya, dapat menonton beberapa video general reading, memilih pembacaan yang terasa paling sesuai, membaca komentar untuk mencari pengalaman serupa, kemudian membagikan video tersebut kepada teman. Pengguna tidak hanya menjadi konsumen makna, tetapi juga ikut memproduksi dan menyebarkannya.

Yang menarik, perilaku tersebut sekaligus menjadi bagian dari mekanisme algoritmik. Aktivitas like, save, komentar, share, durasi menonton, dan aktivitas mengikuti akun menghasilkan data yang digunakan platform untuk menentukan rekomendasi berikutnya. 

Dengan demikian, terbentuk hubungan yang bersifat sirkular: pengguna mencari makna melalui tarot, perilaku mereka menghasilkan data, algoritma membaca data tersebut dan menghadirkan lebih banyak tarot, lalu paparan yang makin besar mendorong pengguna untuk kembali berinteraksi.

Pada titik itu, pengguna berada dalam posisi yang ambivalen. Mereka memang dipengaruhi oleh sistem rekomendasi, tetapi pada saat yang sama ikut membentuk apa yang direkomendasikan melalui perilakunya sendiri. 

Kategori :