JAKARTA, HARIAN DISWAY- Pasar keuangan global diproyeksikan menghadapi pekan yang penuh gejolak seminggu ke depan, Sabtu 10 Oktober 2026.
Pergerakan nilai tukar, komoditas minyak, hingga logam mulia dipengaruhi oleh sejumlah kompleksitas. Mulai faktor teknikal, tensi geopolitik yang kian memanas di Timur Tengah dan Eropa, dinamika politik Amerika Serikat, serta kebijakan bank sentral.
Hal tersebut disampaikan oleh Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi dalam analisis terbarunya, Minggu siang.
Secara teknikal, kata Ibrahim, pergerakan sejumlah instrumen utama menunjukkan tren fluktuasi yang cukup tinggi. Indeks dolar diprediksi masih akan mengalami penguatan tajam dengan level support di 101.50 dan resisten di 103.00.
BACA JUGA:Indeks Dolar dan Minyak Dunia Bergejolak, Harga Emas dan Logam Mulia Diproyeksi Menguat Pekan Ini
BACA JUGA:Kebijakan The Fed-Geopolitik Bikin Harga Emas Dunia dan Logam Mulia Bergejolak Pekan Ini
Sementara itu, harga minyak mentah dunia jenis WTI Crude Oil diproyeksikan bergerak pada level support 84.60 dan resisten 101.60. Dengan potensi bertahan di atas level 100.
Ibrahim memprediksi, dengan situasi kompleksitas ini, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan pekan depan diperkirakan berada pada rentang Rp17.780 hingga Rp18.060.
Adapun harga emas dunia yang sebelumnya ditutup menguat di level 4.194 dolar per troy ons memiliki rentang perdagangan dengan support di 4.021 dolar per troy ons dan resisten di 4.340 dolar per troy ons. Sementara logam mulia domestik yang ditutup pada posisi Rp2.592.000 per gram juga diprediksi ditransaksikan pada rentang harga Rp2.430.000 hingga Rp2.740.000 per gram dalam sepekan ke depan.
Dari sisi fundamental, Ibrahim mengklasifikasikan analisisnya ke dalam empat pilar utama. Yaitu geopolitik, kebijakan perpolitikan Amerika Serikat, kebijakan Bank Sentral, serta suplai dan demand. Dari sektor geopolitik, konflik di Timur Tengah masih membayangi pasar meski ada komunikasi antara AS dan Iran terkait isu reaktor nuklir dan pengayaan uranium.
Menurut Ibrahim, konflik ini dipicu oleh persoalan nuklir yang krusial sehingga sulit mencapai kesepakatan: "Sehingga kemungkinan besar apa yang dilakukan oleh Amerika dan Iran, kemungkinan besar tidak akan ada satu kesepakatan."
Di sisi lain, perang antara Ukraina dan Rusia diprediksi masih akan berlanjut dalam jangka panjang hingga tahun 2030. Mengingat Ukraina berambisi merebut kembali 20 persen wilayahnya yang dikuasai Rusia.
Ibrahim menegaskan bahwa perang ini akan berlangsung lama karena kedua negara sama-sama tangguh: Artinyaz bahwa Ukraina dan Rusia sama-sama memiliki persenjataan yang cukup canggih, sehingga perang ini akan berlangsung cukup lama, bukan saja sampai tahun 2029, kemungkinan besar sampai 2030 pun juga masih akan terjadi. "Kondisi ini mendongkrak ketegangan global yang turut memperkuat posisi dolar dan harga emas," terangnya.
Sementara itu, dari segi politik domestik Amerika Serikat, menjelang pemilihan sela (midterm election) di bulan November, tingkat kepuasan publik AS terhadap Partai Republik dan kepemimpinan Donald Trump mengalami penurunan. Situasi politik ini memicu kekhawatiran eskalasi konflik luar negeri demi mengakhiri perang dengan cepat.
Dari kebijakan moneter, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) diprediksi akan mempertahankan suku bunganya dalam pertemuan bulan Oktober mendatang menyusul pelemahan sektor tenaga kerja dan penurunan inflasi. Langkah ini ditopang oleh masuknya pasokan solar dari Rusia ke AS yang membantu meringankan beban inflasi.