Harga Emas Diprediksi Naik Pekan Ini, Antam Bisa Tembus Rp2,86 Juta Per Gram

Harga Emas Diprediksi Naik Pekan Ini, Antam Bisa Tembus Rp2,86 Juta Per Gram

Setelah merosot tajam pada perdagangan Rabu lalu, harga emas hasil produksi PT Aneka Tambang Tbk atau yang biasa dikenal sebagai emas Antam kini kembali melonjak naik-Dok. ANTAM-

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Harga emas dunia dan logam mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam) diproyeksikan kembali menguat pada pekan ini.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi melihat sejumlah faktor global masih menjadi penopang harga emas. Mulai dari ketegangan geopolitik, kebijakan fiskal Amerika Serikat (AS), kebijakan bank sentral, hingga tingginya permintaan emas global.

"Apa yang membuat harga emas dunia dan logam mulia masih akan mengalami kenaikan? Seperti biasa, ya, dari geopolitik, kemudian kebijakan pemerintah Amerika, kebijakan bank sentral, dan permintaan emas di kuartal ketiga yang terus mengalami lonjakan," ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Minggu, 23 Agustus 2026.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu perhatian utama. Ibrahim menyoroti rencana Amerika Serikat menjatuhkan sanksi ekonomi baru terhadap Iran.

Rencana tersebut mendapat respons keras dari Teheran. Iran bahkan disebut mengancam menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dunia.

BACA JUGA:Harga Emas Dunia dan Logam Mulia Melonjak, Didorong Faktor Geopolitik hingga Kebijakan Bank Sentral AS

BACA JUGA:Harga Emas Antam Naik Rp11.000 Per Gram Hari Ini, Cek Selengkapnya di SIni!

Jika ketegangan tersebut meningkat, pasokan energi global berpotensi terganggu. Kondisi itu dapat mendorong kenaikan harga minyak sekaligus meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset safe haven.

Tiongkok juga berpotensi terdampak karena menjadi salah satu importir utama minyak mentah Iran. Menurut Ibrahim, sekitar 80 persen minyak mentah Iran diekspor ke Tiongkok.

Ketidakpastian geopolitik juga datang dari kawasan lain. Konflik Israel dan Suriah yang turut melibatkan Turki serta perang Rusia-Ukraina masih menjaga risiko geopolitik global tetap tinggi.

Faktor berikutnya berasal dari kebijakan fiskal Amerika Serikat.

Ibrahim menilai tingginya beban utang pemerintah AS mendorong Departemen Keuangan AS melakukan buyback atau pembelian kembali obligasi, terutama untuk surat utang dengan tenor 10 hingga 30 tahun.

Langkah tersebut sempat mendorong harga obligasi dan memicu aksi jual dalam jangka pendek. Namun, rencana perluasan buyback hingga lebih dari USD4 triliun justru diperkirakan menekan imbal hasil atau yield obligasi AS jangka panjang.

BACA JUGA:Harga Emas Antam Melejit Rp40.000! Kini Tembus Rp2,69 Juta per Gram

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: