Mungkinkah Rocky Gerung Jadi Devil’s Advocate Istana?

Minggu 11-10-2026,22:01 WIB
Oleh: Muchammad Syuhada’*

Selama ini Rocky Gerung berusaha menumbuhkan kesadaran kritis publik dari luar kekuasaan lewat gagasan-gagasan yang ia bagikan di ruang diskursus. 

Kini bermunculan generasi intelektual kritis seperti Zainal Arifin Mochtar, Feri Amsari, Bima Yudhistira Adhinegara, Media Wahyudi Askar, Ferry Irwandi, Cania Citta Irlanie, dan tokoh-tokoh intelektual kritis lainnya yang menjadi penyeimbang kekuasaan. 

BACA JUGA:Rocky Gerung Sakti

BACA JUGA:Kasus Rocky Gerung: Jokowi Dihina dan Dipuji

Seolah seperti sebuah regenerasi atau kaderisasi tidak langsung yang dengan kata lain, panggung oposisi intelektual sudah memiliki penjaga baru, sehingga bisa jadi Rocky Gerung mengambil peran untuk berpindah posisi. 

Perpindahan itu ia sebut sebagai radical break, istilah yang sering ia gaungkan. Namun, hal tersebut menjadi ujian baru. Apakah ia akan berhenti berpikir radikal ataukah ia mampu mewarnai pemerintahan dengan nalar kritis dari dalam?

Kagumi Pikirannya, Bukan Subjeknya

Mengidolakan manusia berisiko menjerumuskan pada kultus personal, sebaiknya kagumilah buah pikirannya, bukan subjeknya agar nalar kritis kita tidak bergantung pada satu nama. Rocky Gerung boleh masuk kekuasaan, tokoh boleh datang dan pergi, kekuasaan boleh berganti. 

Namun, masyarakat harus tetap melakukan kontrol pengawasan terhadap laku kekuasaan, tidak boleh surut. Jadi, jangan pernah menitipkan kesadaran kritis pada orang lain karena kesadaran kritis bukanlah warisan yang bisa diwakilkan. 

BACA JUGA:Kasus Rocky Gerung Dibanding-bandingke

BACA JUGA:Rocky Gerung Punya Dua Pernyataan Panas

Ia merupakan tanggung jawab yang hanya bisa dijalankan oleh pikiran kita sendiri. Soal kesadaran kritis, Paulo Freire juga pernah menyebutkannya dalam Pedagogy of The Oppressed (1970) bahwa pengetahuan yang ditanamkan tanpa proses berpikir kritis adalah indoktrinasi, dan itu adalah bentuk penindasan. 

Apabila nalar kritis terus dirawat dalam diri kita, hal tersebut akan menjadi penjaga dalam kemerdekaan berpikir. Dukung argumennya dengan alasan, jika ia benar. Bantah dengan data dan nalar, jika ia keliru. 

Menjadi devil’s advocate bagi sang devil’s advocate berarti menguji kritiknya dari luar, sebagaimana ia dulu menguji kekuasaan. Ketika kita bergantung pada satu figur, kita sedang menyerahkan hak berpikir kepada subjek lain, dan pada saat itu pula kebebasan berpikir kita mulai memudar. 

Irving L. Janis, dalam Victims of Groupthink (1972), menyebut devil’s advocate sebagai sosok yang sengaja ditempatkan untuk menyuarakan keraguan. 

Tujuannya sederhana, yakni tidak terjebak groupthink, tidak merasa semua sudah benar, dan tidak mengambil keputusan gegabah karena demokrasi tidak hidup dari satu tokoh, tetapi dari warga yang merawat nalarnya. 

Kategori :