Mungkinkah Rocky Gerung Jadi Devil’s Advocate Istana?

Minggu 11-10-2026,22:01 WIB
Oleh: Muchammad Syuhada’*

Ujian Bernama Kekuasaan

Kekuasaan adalah tempat distribusi keadilan dan kesejahteraan. Oleh karena itu, peran intelektual di dalamnya bukan sekadar menghiasi jabatan. Ia harus menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan yang berdampak kepada rakyat. 

Antonio Gramsci dalam Selections from the Prison Notebooks (1971) menyatakan bahwa intelektual dinilai dari fungsi sosialnya, bukan profesinya. Antonio Gramsci membantu kita memahami pentingnya hubungan antara intelektual, gagasan, dan praktik politik. 

Masuknya seorang intelektual dalam kekuasaan tidak otomatis menjamin perubahan. Diperlukan integritas, keberanian moral, dan kesediaan mempertahankan kepentingan publik ketika berhadapan dengan kepentingan politik.

Wantimpres bukan eksekutor kebijakan, tugasnya memberikan pertimbangan kepada presiden. Jika Rocky Gerung dengan posisinya sebagai Wantimpres benar-benar ingin membawa nalar kritis ke dalam kekuasaan, ukuran keberhasilannya bukan lagi seberapa tajam ia mengkritik pemerintah. 

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa berani ia memberikan pertimbangan ketika kebijakan pemerintah memiliki kelemahan.

Tidak perlu terlalu terburu-buru memuji ataupun mencela karena ujian paling sublim bagi seorang pemikir bukanlah saat ia lantang menyuarakan kritik dari luar saja, melainkan ketika ia telah diberi kewenangan resmi di dalam sebuah pemerintahan, apakah kompas moralnya tetap tegak lurus pada akal sehat, atau justru terdistorsi oleh kompromi pragmatis?

Mungkinkah Rocky Gerung benar-benar menjadi devil’s advocate yang menguji kekuasaan dari dalam, sekaligus menunjukkan etika seorang pejabat yang baik dan benar? 

Kita tidak perlu menjawabnya dengan prasangka. Namun, waktu, sikap, dan kontribusinya yang akan memberikan penilaian lebih adil. (*)

*) Muchammad Syuhada’ adalah pengamat pemilu dan demokrasi Manifesto Ideas Institute.

Kategori :