Ketika Bom Memilih Peran Keluarga

Jumat 23-10-2026,15:32 WIB
Reporter : Efatha Filomeno Borromeu Duarte
Editor : Yusuf Ridho

Maret 2025, peneliti Tiongkok memperkenalkan alat pemotong kabel bawah laut. Katanya bisa bekerja di kedalaman 4.000 meter.

Gunting. Iya, gunting! Bukan untuk memotong pita peresmian. Melainkan, untuk memotong kabel.

Perangkat itu katanya untuk keperluan sipil. Tapi, kajian komisi AS pada September 2026 memperingatkan, teknologi tersebut bisa disalahgunakan untuk mengganggu kabel komunikasi trans-Pasifik.

Belum ada bukti Beijing memerintahkan pemotongan. Kemampuan tidak sama dengan keputusan. Orang punya golok belum tentu mau menebang.

Tapi, ini yang bikin saya ngeri. Jaringan bawah laut itu menopang bank, pelabuhan, komunikasi pemerintah, dan layanan digital.

Satu kabel putus, internet belum tentu mati. Ada cadangan. Tapi, kalau putusnya beruntun. Bisa lambat. Dan, saat lambat itu, keputusan justru harus dibuat cepat.

Bom merobohkan gedung. Gangguan komunikasi menghambat orang yang mau menyelamatkan penghuninya.

Bedanya tipis. Akibatnya tebal. Gunting mengingatkan, jaringan bisa diputus. Tapi, ada yang lebih murah dan lebih cepat. Ketika saluran resmi tersendat, rumor langsung ambil alih. Itulah yang terjadi di Korea Utara.

Korea Utara Kehilangan Suara

Pada 20 sampai 21 Oktober, sekitar 42 situs Korea Utara tidak stabil atau sulit diakses. Termasuk media pemerintah dan maskapai nasionalnya.

Penyebabnya belum pasti. Belum ada bukti serangan dari luar.

Hampir bersamaan, beredar rumor Kim Jong-un meninggal dunia karena pendarahan otak. Sumbernya unggahan seorang pembangkang Tiongkok di AS.

Tidak ada bukti. Media negara melaporkan Jong-un mengunjungi pameran pada 19 Oktober. Tapi, waktu foto itu diambil belum bisa dipastikan. Jangan disatukan, ya.

Gangguan situs bukan bukti Jong-un meninggal. Keduanya juga belum terbukti berkaitan. Namun, pelajarannya tetap menohok.

Saat saluran resmi tersendat, ruang kosong langsung diisi orang yang tidak tahu, tapi terdengar paling yakin. Dalam krisis, rumor bisa berlari lebih cepat daripada klarifikasi.

Negara dengan rudal antarbenua ternyata bisa kehilangan akses stabil ke situs beritanya. Rudal bisa melintasi samudra. Keterangan resmi tersangkut jaringan. Ironi, bukan?

Kategori :