Secara antropologis, pelarangan makanan biasanya memiliki alasan tertentu. Misalnya, dilarang karena makanannya sulit dibudidayakan atau sulit ditemukan. Larangan menjadi cara masyarakat untuk mengamankan ketersediaan.
Di sisi lain, sistem gagasan adat yang kaku dapat meningkatkan risiko kematian ibu dan anak. Misalnya pada masyarakat Badui Dalam. Di sana, saat proses persalinan, ibu hanya boleh ditemani oleh dukun bayi.
BACA JUGA:Pemkab Sidoarjo Tekan AKI-AKB dengan RMNC, Target Zero Death Ibu dan Bayi
BACA JUGA:Angka Kematian Ibu dan Bayi di Jatim Menurun
Karena rumah dukun yang sering kali jauh, banyak ibu muda (usia 15-17 tahun) mengalami komplikasi pendarahan tanpa penanganan medis yang memadai.
Sebab itu, penerapan tradisi masyarakat daerah di era modern juga harus melihat dua sisi secara berimbang. Melestarikan budaya sangat diperbolehkan tetapi harus memikirkan dampaknya di kemudian hari.
Belakangan, mitos-mitos tentang bayi dan pola asuh anak mulai terkikis di beberapa wilayah. Di Jawa Barat, misalnya. Kini, ibu-ibu muda tidak lagi menggunakan bawang merah atau bawang putih sebagai "jimat" perlindungan bayi. Salah satu alasannya adalah dapur keluarga muda modern masa saat ini didominasi bumbu-bumbu instan.
Teknologi memainkan peranannya. Keluarga muda lebih percaya pada lantunan Al-Qur'an yang diperdengarkan kepada bayi mereka, ketimbang mantra dan tembang yang diajarkan leluhur. Mereka juga lebih sering mempraktikkan "ilmu" yang didapat dari FYP media sosial.
BACA JUGA:Gelar Musyawarah Daerah, AIMI Jatim Pompa Semangat Relawan untuk Dukung Ibu Menyusui
BACA JUGA:Lindungi Ibu Menyusui!
AIR SUSU saja tidak cukup untuk bayi karena tidak mengenyangkan. Gagasan itulah yang kemudian memunculkan fenomena bayi di bawah usia enam bulan diberi makan pisang.-Boy Slamet-Harian Disway
"Sistem gagasan ibu-ibu muda sudah berbeda dengan sistem gagasan orang-orang tua dulu. Jadi mereka sudah tidak lagi mempraktikkan itu sama sekali," kata Erna.
Perubahan ini membuktikan bahwa media sosial dan media massa merupakan alat yang sangat efektif untuk mengintervensi dan mengubah sistem gagasan masyarakat. Berkat sentuhan teknologi, segala mitos yang kebenarannya tak bisa dirunut dengan akal sehat, mulai ditinggalkan. Nasihat medis dan praktik pengasuhan serta kesehatan modern mendapatkan ruang yang lebih luas.
Dengan demikian, generasi tua tidak lagi dapat memaksakan praktik pengasuhan tradisional mereka yang salah kaprah kepada anak cucu. (*)