Benang Kusut Mitos Kesehatan Bayi (1): Rapuh Sejak dalam Kandungan

Benang Kusut Mitos Kesehatan Bayi (1): Rapuh Sejak dalam Kandungan

PIJAT BAYI hanya boleh dilakukan senyampang bayi nyaman. Tidak ada kewajiban bagi orang tua untuk memijatkan bayi.-Muhammad Daffa Sultan Lakoro-Harian Disway

Masyarakat Jawa tumbuh dalam sistem budaya dan tradisi yang turun menurun. Termasuk cara-cara merawat bayi baru lahir. Tidak masuk akal, tapi itu bagian dari budaya.

Anda sudah tahu bahwa bayi di Tanah Jawa itu harus diberi barang-barang tertentu pada pakaiannya agar terhindar dari marabahaya. Larangan tersebut sebenarnya sudah ada semenjak bayi itu dalam kandungan, hingga ia lahir ke dunia.

Yulia (bukan nama sebenarnya), perempuan kelahiran 1959 itu membagikan kisahnya saat mengandung hingga membesarkan anak. Ia memiliki empat anak, semuanya ia besarkan dengan tradisi leluhur. Sejak mengandung seorang ibu harus rutin meminum air kelapa dan makan bengkoang, kelak anak yang lahir badannya bersih.

"Ibu hamil itu juga tidak boleh mengonsumsi makanan pedas. Nanti pas lahir anaknya kemerahan dan belekan matanya. Kepanasan dia di dalam rahim," ceritanya kepada Harian Disway Minggu, 25 Oktober 2026.

Kemudian selama masa kehamilan tidak boleh mengungkapkan usia kandungan yang sebenarnya, jika ada yang bertanya. Lalu dilarang pula orang asing mengusap perut ibu hamil.

BACA JUGA:RSUD Dr Soetomo Rawat Bayi A Sesuai Prosedur, Emil Dardak Tepis Isu Intervensi NICU

BACA JUGA:Bayi Lahir di Surabaya Langsung Dapat Tiga Dokumen Adminduk Gratis

Menurut Yulia, hal itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, janin dalam kandungan hilang secara tiba-tiba. Konon katanya sang janin dipindahkan ke rahim lainnya.

Ada lagi pantangan yang harus dihindari. Selama mengandung dilarang menyakiti berbagai jenis hewan. Kelak anak yang lahir akan cacat. "Tetangga saya dulu yang hamil ada yang memukul tikus sampai kaki tikusnya semper. Terus anaknya lahir ya kakinya semper juga," ingatnya.


GUNTING menjadi senjata yang harus ada di sisi bayi bersama kaca, jarum, dan ubarampe lainnya.-Boy Slamet-Harian Disway

Semuanya memang di luar nalar, tapi itulah budaya yang berkembang di sebagian budaya tradisional di Indonesia. Ya, Yulia besar dan menua di Surabaya lamanya paham betul bagaimana memperlakukan janin hingga menjadi bayi.

Saat bayi lahir ke dunia, ari-arinya juga harus dicuci dengan bersih, jangan ada bau anyir yang tertinggal, lalu diberi parfum dan bunga-bungaan khusus ari-ari yang bisa dibeli di sepanjang Jalan Pasar Kembang, Surabaya.

BACA JUGA:Pemkab Sidoarjo Tekan AKI-AKB dengan RMNC, Target Zero Death Ibu dan Bayi

BACA JUGA:Angka Kematian Ibu dan Bayi di Jatim Menurun

"Tinggal bilang aja buat kubur ari-ari ke mbok jual bunga itu, nanti dikasih barang-barang komplet. Kalau bisa parfumnya yang banyak, biar wangi," ungkapnya. Tujuan memberi parfum khusus kepada ari-ari itu agar kelak anaknya tidak bau badan. Wangi selalu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: