SULIT dibayangkan kalau Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto tidak sat-set melakukan rotasi besar-besaran. Apakah operasi penangkapan sejumlah jenderal saat ini bisa lancar?
Mantan Kapolri Jenderal LSP (Listyo Sigit Prabowo), yang menjadi tersangka utama kasus penyadapan presiden itu, dijemput Kepala Bareskrim Komjen Pol Asep Safrudin. Dan, diperiksa oleh Bareskrim.
Coba bayangkan kalau kepala Bareskrim belum diganti. Masih dijabat Komjen Syahardiantono. Semua orang tahu, Komjen Syahar sangat dekat dengan LSP. Mereka teman satu angkatan, yakni ’91. Tentu ada persoalan psikologis bila Syahar yang memeriksa Sigit.
Nama Syahar melejit saat peristiwa Sambo. Ia ditunjuk untuk menggantikan Sambo –yang terjerat kasus pembunuhan– sebagai kepala divisi propam.
BACA JUGA:Yusril Sebut Prabowo Mengetahui Dugaan Penyadapan dari Laporan Kapolri Suyudi
Setelah itu, LSP mempromosikan Syahar ke posisi kepala Bareskrim dengan bintang tiga. Begitu dekatnya mereka, Sigit pindah menjadi kepala staf presiden, Syahar ikut diboyong.
Intinya, Kapolri Suyudi (Akpol ’94) telah melakukan perombakan besar-besaran. Hampir semua pejabat strategis diisi orang baru. Sebanyak 19 kapolda diganti, termasuk kepala Polda Metro Jaya.
Pejabat utama di Mabes Polri: wakapolri, irwasum, kabaharkam, kabaintelkam, kabareskrim, kalemdiklat juga disegarkan. Termasuk kepala divisi propam. Petinggi Polri yang dikenal dekat dengan Sigit digeser. Terutama dalam mutasi gelombang pertama, sehari setelah Suyudi memegang tongkat komando kepala Polri.
Sudah empat kali rotasi besar-besaran dilakukan. Yang terakhir bersamaan harinya dengan penangkapan Jenderal Sigit. Di gelombang keempat itu, sebanyak 264 perwira dirotasi. Termasuk 6 wakapolda dan 22 kapolres.
BACA JUGA:Ketua IPW: Perombakan Besar-Besaran oleh Kapolri Suyudi Ario Seto Sebagai Regrouping
BACA JUGA:Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto Ziarah ke Makam dan Museum Marsinah di Nganjuk
Bisa dibilang, Jenderal Suyudi melakukan bersih-bersih. Perwira andalan Sigit terpinggirkan. Bahkan, ada yang menyebut gerakan membersihkan perwira yang dekat rezim lama.
Suyudi juga mengubah ”pakem” pola promosi. Biasanya, kapolda dari Jawa yang dipromosi jabatan bintang tiga. Namun, di tangan Suyudi, yang dapat promosi adalah kapolda dari provinsi yang dulu dianggap tipe C.
Kabareskrim Komjen Asep Safrudin dipromosi dari kapolda Kepri. Komjen Rudi Darmoko, sebelum menjabat kepala Lemdiklat adalah kapolda NTT. Komjen Herry Haryawan –dipromosi menjabat kabaharkam– sebelumnya kapolda Riau.