Membaca Zaman, Menggugah Kesadaran, Merawat Nurani

Jumat 06-11-2026,18:23 WIB
Oleh: Ulul Albab *)


Ulul Albab, Pendiri Kampus Kehidupan--

Ada sebuah negeri yang konon sedang tumbuh menjadi negara maju. Gedung-gedungnya menjulang. Jalan-jalannya semakin panjang. Teknologinya semakin canggih. Universitasnya bertambah banyak. Gelar akademiknya semakin berderet. Laporan keberhasilannya semakin tebal.

Tetapi ada satu hal yang diam-diam juga berkembang pesat, yaitu: “kepalsuan.”

Di negeri itu, janji bisa menjadi pengganti kenyataan. Pernyataan bisa mengalahkan fakta. Angka bisa disulap menjadi prestasi. Kesalahan bisa disembunyikan di balik kalimat-kalimat yang terdengar meyakinkan.

Hukum pun tidak selalu menjadi tempat mencari keadilan. Kadang-kadang, ia justru menjadi arena adu dalil. Siapa yang punya uang, pengaruh, dan kemampuan menyusun argumentasi, bisa merasa lebih dekat dengan kemenangan. Kebenaran menjadi sesuatu yang bisa diperdebatkan panjang lebar, bahkan diperdagangkan melalui tafsir.

Akhirnya, yang dicari bukan lagi bagaimana menegakkan hukum, tetapi bagaimana membuat sesuatu yang salah terlihat seolah-olah benar. Begitulah hikayat sebuah negeri yang mulai kehilangan keberanian untuk jujur.

Kepalsuan Menjadi Cara Memerintah

Pemerintahnya gemar berjanji. Janji kesejahteraan, janji pemerataan, janji pemberantasan korupsi, janji pelayanan publik, janji pendidikan bermutu. Semua terdengar indah. Tetapi tidak semua berakhir menjadi kenyataan.

Ketika janji tidak terpenuhi, selalu tersedia penjelasan. Ada alasan teknis, alasan anggaran, alasan global, alasan warisan pemerintahan sebelumnya. Alasan memang bisa menjelaskan kegagalan. Tetapi jika alasan terus-menerus diproduksi untuk menutupi ketidakjujuran, maka ia berubah menjadi kepalsuan yang dilembagakan.

Rakyat pun tidak selalu berada di luar lingkaran itu. Sebagian mungkin mendukung pemerintah karena sungguh-sungguh percaya. Tetapi ada pula dukungan yang dibayar, dipertukarkan dengan fasilitas, atau diberikan karena kepentingan sesaat.

BACA JUGA:Kasus Penyadapan Prabowo, Syahganda Nainggolan Ingatkan Bahaya Politik Busuk yang Pecah Belah Bangsa

BACA JUGA:Prabowo Mau Revitalisasi Gambir hingga Kereta Bandara Bali, Ingin Kebanggaan Baru

Dukungan politik akhirnya tidak selalu mencerminkan keyakinan. Ada tepuk tangan yang lahir dari hati, ada pula tepuk tangan yang lahir dari amplop. Yang terdengar sama. Yang membedakan hanya motifnya.

Intelektualitas yang Kehilangan Kejujuran

Lebih menyedihkan lagi, kepalsuan bisa memasuki ruang yang seharusnya menjadi benteng kebenaran, yaitu: “kampus.”

Kategori :