Membaca Zaman, Menggugah Kesadaran, Merawat Nurani

Jumat 06-11-2026,18:23 WIB
Oleh: Ulul Albab *)

Akademisi semestinya menjadi penjaga akal sehat. Penelitian semestinya lahir dari kejujuran metodologis dan keberanian menemukan kenyataan, betapapun pahitnya. Tetapi tekanan target publikasi, tuntutan kenaikan jabatan, dan perlombaan mengejar angka kinerja dapat menggoda sebagian orang untuk mengambil jalan pintas.

Ada penelitian yang lebih sibuk mengejar kesimpulan daripada mencari kebenaran. Ada publikasi yang lebih mementingkan jumlah daripada mutu. Bahkan, dalam praktik yang menyimpang, data dapat dimanipulasi, hasil penelitian direkayasa, dan nama akademisi dipertukarkan sebagai komoditas.

Kampus pun berisiko berubah menjadi pabrik gelar dan publikasi, bukan tempat persemaian ilmu pengetahuan.

Padahal, gelar doktor tidak otomatis membuat seseorang menjadi pencinta kebenaran. Bisa saja seseorang sangat tinggi pendidikannya, tetapi rendah keberaniannya untuk berlaku jujur.

Kepalsuan Menyebar ke Seluruh Ruang Kehidupan

Dunia usaha pun tidak kebal. Ada pengusaha yang membangun bisnis dengan inovasi dan kerja keras. Tetapi ada pula yang tergoda mengakali mutu, memanipulasi informasi produk, mengurangi kualitas, atau memainkan laporan demi keuntungan.

Di sekolah dan kampus, pendidikan bisa kehilangan maknanya ketika yang dikejar hanya ijazah. Datang ke kelas sekadar memenuhi presensi. Mengerjakan tugas sekadar menggugurkan kewajiban. Menempuh pendidikan bukan untuk memperluas pengetahuan, tetapi hanya untuk mempercepat perolehan selembar bukti kelulusan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga mengenal kepalsuan yang lebih sepele. Senyum yang menyembunyikan kebencian. Kesalehan yang hanya menjadi penampilan. Kesetiakawanan yang bergantung pada keuntungan. Kepedulian yang hanya ramai di depan kamera, tetapi menghilang ketika tidak ada penonton.

Lama-lama, kita terbiasa hidup dengan dua wajah: wajah yang ditampilkan dan kenyataan yang disembunyikan.

Yang berbahaya, kepalsuan tidak lagi membuat kita malu. Kita justru merasa bodoh jika memilih jujur ketika orang lain sedang mengambil keuntungan dengan cara tidak jujur.

Apakah Indonesia Akan Membiarkan Ini Menjadi Kebudayaan?

Sebuah negeri tidak akan benar-benar maju hanya karena gedungnya tinggi, anggarannya besar, atau pertumbuhan ekonominya mengesankan. Kemajuan membutuhkan fondasi kepercayaan. Kepercayaan membutuhkan kejujuran. Dan kejujuran membutuhkan keberanian untuk menolak kepalsuan, bahkan ketika kejujuran itu merugikan kepentingan sendiri.

Jika pemerintah memproduksi janji tanpa tanggung jawab, rakyat membeli dukungan, akademisi memperdagangkan legitimasi ilmiah, pengusaha mengorbankan mutu, dan pendidikan hanya menghasilkan ijazah, maka kita sedang membangun kemajuan di atas fondasi yang rapuh.

Kita mungkin terlihat berkembang. Tetapi sesungguhnya sedang menumpuk persoalan yang suatu saat akan menagih harga mahal.

Di sinilah kaum intelektual harus mengambil peran.

Tidak harus semuanya menjadi pejabat. Tidak harus semuanya memimpin demonstrasi. Tidak harus semuanya mendirikan lembaga baru. Tetapi setiap orang berilmu harus memiliki keberanian menjaga wilayah kejujurannya sendiri.

Kategori :