Fenomena itu semestinya menjadi peringatan bagi elite politik bahwa masyarakat bukan lagi khalayak pasif yang sekadar menerima pesan dan narasi dari pemegang kekuasaan.
Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) dan penggunaan buzzer, memang dapat membentuk opini, membanjiri ruang digital dengan informasi, bahkan memanipulasi persepsi publik.
Namun, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada narasi yang dibangun elite. Mereka terus belajar, mengamati, dan mengembangkan pemahaman kritisnya sendiri.
Masyarakat juga makin mampu membangun solidaritas secara mandiri. Media sosial yang semula dipandang sebagai instrumen pembentuk opini publik justru dapat menjadi ruang bertemunya keresahan, menyatukan kepentingan, dan mengorganisasi perlawanan.
Ketika solidaritas bergerak dari percakapan digital menuju tindakan nyata, kekuatan politik masyarakat tidak lagi dapat diukur semata-mata melalui jumlah suara dalam pemilihan umum.
Elite politik perlu menyadari bahwa legitimasi tidak cukup dibangun melalui pencitraan dan pengelolaan opini. Legitimasi juga bergantung pada komunikasi dua arah serta kesediaan untuk mendengar dan merespons aspirasi masyarakat. (*)
*) Gilang Gusti Aji adalah dosen ilmu komunikasi, Fisipol, Unesa.