Review The Northman (2022): Film Viking Paling Akurat yang Pernah Dibuat

Review The Northman (2022): Film Viking Paling Akurat yang Pernah Dibuat

ALEXANDER SKARSGAARD dalam busana dan makeup khas Viking dalam film The Northman. -Universal Pictures -Universal Pictures

 

Oleh:

 

Bagas Denpa

 

Penulis, member Group Hobby Nonton

 

 

 

THE WITCH dan The Lighthouse besutan Robert Eggers dipuji karena visual artsy-nya yang gelap, muram, dan depresi. Ceritanya pun klimaks akan makna yang tersembunyi dan tersirat. Kali ini, ia menghadirkan The Northman. Yang disebut-sebut sebagai film Viking paling akurat yang pernah dibuat.

 

KALI ini Eggers menampilkan The Northman. Semuram dua karyanya tersebut, semuram dinginnya salju Islandia. Saat Amleth (Alexander Skarsgård) melihat sendiri ayahnya, King Aurvandil War-Raven (Ethan Hawke) dibunuh oleh pamannya, Fjölnir (Claes Bang). Darah Amleth mendidih dengan tekad balas dendam.

 

Hal paling memikat dari The Northman datang dari visualnya yang Viking banget. Mulai dari latar, kostum, dan segala pernik-perniknya. Namun Eggers tidak membiarkan kita nyaman dengan visual tersebut. Ia membuatnya depresif.

 

Cipratan darah, kepala terpenggal, cabul, ketelanjangan, hingga tingkah laku binatang menghiasi The Northman yang berdurasi sepanjang 2 jam 17 menit ini. Tak ada yang ditutupi. Semua ditampilkan apa adanya.

 

Bila visual masih menjadi poin positif dari The Northman, maka jalinan cerita yang mengilhami Hamlet-nya Shakespeare ini memang tak sekuat dua film Eggers sebelumnya. Tak banyak pesan tersirat dari The Northman. Meski, harus diakui, bahwa keinginan memang tak selalu berbanding lurus dengan kenyataan.

 

Dari segi pelakon, semuanya tampil prima. Eggers mengajak kembali Anya Taylor-Joy yang diorbitkannya di The Witch. Eggers juga mengajak lagi Willem Dafoe (The Lighthouse) dan Ralph Ineson (The Witch). Sayangnya, dua nama itu hanya sedikit mendapatkan layar.

 

Secara keseluruhan, The Northman tidak mengecewakan. Meski secara kualitas masih di bawah dua karya Eggers sebelumnya. Mungkin, dari kita banyak yang kurang suka dengan ending The Northman. Tapi, itu bukankah cara Eggers membuat kita tidak tenang. Sama seperti ending The Witch dan The Lighthouse. Absurd.

 

I will avenge you father, I will save you mother, I will kill you Fjolnir. (Retna Christa-*)

 

Komentar

 

THE NORTHMAN bukanlah film mainstream. Kalau Anda menikmati The Lighthouse (2019) atau The Green Knight (2021), ini jelas film khusus untuk kalian. Film yang disutradarai Robert Eggers ini bukanlah film aksi hore-hore. Saya awalnya merasa terjebak trailer, sehingga tak cukup tertarik. Bahkan setelah 10 menit menonton saya  putuskan untuk menonton film lain yang cukup menghibur. Tapi setelah saya lanjutkan di hari yang lain, saya tahu saya salah selama ini.

 

Saya awalnya merasa gerah dengan dialog kaku yang bersyair di dalamnya. Bahkan untuk adegan bercinta saja harus melalui rima berkali-kali. Tapi kerisihan saya berubah menjadi ketakjuban. Pada akhir film, saya menyadari bahwa The Northman sebenarnya adalah sebuah pertunjukan teater yang dibawa ke layar lebar. Bahkan blocking pemain pun seperti blocking panggung. Gerakan kamera juga merambat pelan untuk menunjukkan kedalaman adegan. Hingga ada kalanya sangat statik seperti sebuah lukisan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: