Serial Dimaz Muharri (5): Bayar Joki Pakai Sepatu Basket

Serial Dimaz Muharri (5): Bayar Joki Pakai Sepatu Basket

Lulus SMA, Dimaz Muharri mulai menancapkan kaki di Medan. Aktivitas basketnya semakin serius. Ia pun mendapatkan klub yang kemudian membuka pintu menuju basket profesional. 

---

TAHUN 2003, Dimaz lulus dari SMAN 3 Binjai. Sebagaimana lazimnya anak-anak yang lain, ia mengikuti Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) –sekarang namanya SBMPTN. Kampus yang paling banyak diincar anak-anak Medan dan sekitarnya saat itu adalah Universitas Sumatera Utara (USU).

Godim, panggilan Dimaz oleh kakaknya, juga mengikuti ujian Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Sebagai anak IPS, incarannya memang bidang ekonomi. "Dua-duanya tidak lolos. Jadi setahun saya menganggur," kata Godim.

Sebenarnya tidak menganggur juga. Godim mengikuti kursus komputer di Medan. Aktivitasnya di klub basket Brahrang juga masih berlanjut. Ia tetap tinggal di Binjai. Dua aktivitas itu sudah membuatnya sibuk. Jadi sejatinya tak bisa dikatakan menganggur.

Apalagi, ia tetap main basket di Lapangan Merdeka bersama teman-temannya. Sering ikut turnamen 3x3 di Binjai maupun di Medan. Sebenarnya, kata Dimaz, ada satu teman SMP-nya yang juga jago basket. Bahkan, lebih jago dari Dimaz. Namanya, Ikhsan Munawir. Kakak kelasnya di SMPN1 Binjai. Teman basket di Lapangan Merdeka dan juga satu klub di Brahrang. "Sayangnya ia kecelakaan motor dan gak bisa maksimal main basket lagi," kenang Godim.

Dimaz kembali mencoba SBMPTN pada 2004. Juga di USU. Gagal juga. Pilihan akhirnya jatuh ke Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Godim memilih jurusan Ekonomi Pembangunan. UISU termasuk perguruan tinggi swasta terbaik di Medan. Cukup terkenal dan mentereng saat itu. Sampai sekarang juga.

AKSI Dimaz Muharri bersama salah satu sepatu koleksinya. (Foto: Dokumentasi Dimaz Muharri)

Medan sudah menjadi kota basket saat itu. Banyak klub basket di kota terbesar di Sumatera itu. Dimaz memilih bergabung dengan klub Analisa. Namanya mirip nama sebuah surat kabar ternama di Medan. "Sebenarnya tidak da hubungannya sih Harian Analisa dengan klub basket Analisa. Tapi koran itu kalau memuat berita basket Analisa fotonya besar-besar," kata pebasket yang mengumpulkan seribu rebound sejak era NBL Indonesia hingga pramusim IBL 2015 itu.

Selama kuliah di kampus UISU, Dimaz pernah sekali membela kampusnya di kejuaraan basket. Di Medan, tahun itu, turnamen basket tidak pernah sepi. Silih berganti. Ia lebih fokus bermain dengan klub basket Analisa.

Di klub Analisa, Dimaz mendapatkan mess di kawasan Bandara Polonia –saat itu belum ada Bandara Kualanamu, Deli Serdang. Lalu akhir 2004, Dimaz mendapatkan tawaran menarik dari kampus STMIK Mikroskil. Anak mahasiswa tahun 2000-an yang doyan basket pasti mengenal kampus tersebut.

Kampus di Jalan Thamrin, Medan, itu akan membentuk tim basket untuk menghadapi Liga Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas). Makanya mereka merekrut mahasiswa yang memiliki talenta basket.

 Masalahnya, tawaran itu datang saat Dimaz menghadapi ujian semester. Itu ujian semester yang pertama. "Saya ingat itu Sabtu. Senin harus sudah gabung Mikroskil. Padahal Senin saya masih ada ujian," kata pemain yang pada IBL 2020 bergabung dengan Louvre Surabaya itu.

Akhirnya, tawaran itu diterima oleh Dimaz. Lalu untuk urusan ujian semester Senin, ia mencari joki. Ketemulah seorang teman yang perawakannya sama dengan dirinya. Sampai ukuran sepatunya juga sama. "Saya bayar pakai sepatu basket Nike Gary Payton," kata Dimaz lantas tertawa. Itu bukan sepatu baru sih. Pernah dipakai Dimaz. Koleksi sepatu basket Dimaz saat itu sudah cukup banyak.

Tibalah di hari ujian. Dimaz sudah sibuk mengurus administrasi di STMIK Mikroskil. Tiba-tiba HP-nya berdering.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: